| dc.description.abstract | Latar Belakang: Tanaman sirih merah (Piper crocatum) adalah tanaman obat
dengan flavonoid, fenol, dan alkaloid piperin yang diketahui memiliki aktivitas
antikanker. Penggunaan sediaan self-nanoemulsifying drug delivery system
(SNEDDS) diharapkan memiliki onset of action yang lebih singkat dengan cara
meningkatkan bioavailabilitasnya. Sediaan nanopartikel SNEDDS ekstrak etanol
daun sirih merah perlu diketahui keamanannya untuk mencapai status fitofarmaka.
Metode: Penelitian ini merujuk panduan Organisation for Economic Cooperation
and Development (OECD) 203 Tahun 2019 dengan menggunakan hewan uji ikan
zebra. Intervensi dilakukan dengan 5 variasi dosis berdasarkan hasil uji optimasi.
Konsentrasi dosis yang digunakan adalah 10 ppm, 27,5 ppm, 45 ppm, 62,5 ppm,
dan 80 ppm. Pengamatan kematian hewan uji dilakukan selama 96 jam dengan
mencatat kematian serta perilaku abnormal, seperti keseimbangan dan pola
berenang ikan. Analisis regresi probit dilakukan menggunakan software SPSS
untuk memperoleh nilai Lethal Concentration 50% (LC50).
Hasil: Nilai LC50 sebesar 49,37 ppm (95% Cl: 41,08-58,05 ppm) diperoleh dari
hasil analisis regresi probit, dengan nilai R2 = 0,76 yang menunjukkan hubungan
yang kuat antara peningkatan konsentrasi dengan jumlah kematian ikan. Pelarut
basis SNEDDS dimungkinkan berperan dalam meningkatkan toksisitas. Selama
proses pengamatan, ditemukan abnormalitas perilaku ikan, seperti hiperaktivitas,
erratic behavior, hilangnya keseimbangan, dan hipoaktivitas.
Kesimpulan: Sediaan nanopartikel SNEDDS ekstrak etanol daun sirih merah
berdasarkan nilai LC50 tergolong ke dalam toksisitas ringan. Penelitian lanjutan
berupa penyesuaian dosis pelarut uji toksisitas subkronis diperlukan agar efek
jangka panjang sediaan dapat diketahui. | en_US |