Asfiksia Sebagai Faktor Risiko Sensorineural Hearing Loss Pada Anak: A Scoping Review
Abstract
Latar Belakang: Tuli sensorineural (SNHL) merupakan kondisi dimana
gelombang suara yang ditransmisikan ke telinga dalam tidak dapat diterjemahkan
menjadi sinyal saraf untuk diinterpretasikan oleh otak sebagai sensasi suara.
Asfiksia dapat menjadi salah satu penyebab Sensorineural hearing loss (SNHL)
dengan menyebabkan terjadinya disfungsi sel rambut koklea dan stria vascularis.
Otoacoustic Emissions (OAE) dan Auditory Brainstem Response (ABR) sebagai
gold standar dalam skrining gangguan pendengaran pada bayi dapat dilakukan
sedini mungkin untuk mencegah keterlambatan diagnosis dan meningkatkan
perkembangan bicara, bahasa, dan kognitif anak.
Metode: Sumber data yang digunakan adalah original article atau original research
mengenai asfiksia dan sensorineural hearing loss (SNHL). Artikel berbahasa
Inggris dan Indonesia berasal dari beberapa database, yaitu Google Scholar,
PubMed, Science Direct, Proquest, Sage Journal, dan Scopus. Pemilihan artikel
menggunakan alur PRISMA-ScR, lalu dilakukan ekstraksi data, item data, dan
sintesis hasil untuk menjawab tujuan penelitian.
Hasil: Dari 8 artikel yang telah ditelaah menjelaskan hubungan antara asfiksia
terhadap kejadian tuli sensorineural pada anak dengan berbagai hasil. Terdapat
penelitian yang menjelaskan kaitan antara keparahan asfiksia dengan tingkat
gangguan pendengaran, kerusakan akibat asfiksia yang bersifat transien, dan
pentingnya skrining menggunakan OAE dan ABR.
Simpulan: Asfiksia perinatal meningkatkan risiko terjadinya gangguan
pendengaran sensorineural pada anak dengan mekanisme utama
melalui hipoksia. Beberapa penelitian menemukan bukti yang menunjukkan
hubungan antara asfiksia dan gangguan pendengaran tidak selalu signifikan
secara statistik, dan terdapat faktor lain yang lebih berpengaruh terhadap kejadian
gangguan pendengaran sensorineural pada bayi.
Collections
- Medical Education [2954]
