Show simple item record

dc.contributor.authorYuda, M Ibnu
dc.date.accessioned2025-02-19T07:11:59Z
dc.date.available2025-02-19T07:11:59Z
dc.date.issued2025
dc.identifier.uridspace.uii.ac.id/123456789/54873
dc.description.abstractIslam diterima secara luas oleh masyarakat Melayu karena tidak mengenal kasta dan mempertahankan kesetaraan sesama manusia. Salah satunya adalah Mayoritas penduduk Lingga Melayu. Salah satu keanekaragaman yang ada di Kabupaten Lingga adalah acara adat Mandi Safar yang dilakukan di Kelurahan Daik. awalnya dilakukan tadisi ini karena masyarakat Daik takut akan wabah yang datang setiap tahun di bulan Safar. Penelitian ini dilakukan secara langsung ke lokasi tujuan, yaitu di Kelurahan Daik. Pendekatan kualitatif digunakan untuk penyelidikan, penemuan, gambar, dan penjelasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan Mandi Safar, yang dilakukan secara Adat Melayu di Kelurahan Daik, Kecamatan Lingga, Kabupaten Lingga, telah menjadi kebiasaan masyarakat setempat pada bulan Safar dan mungkin tidak terlupakan. Karena sudah ada di zaman sultan Abdurrahman Muazamsyah. Setiap prosesi Mandi Safar memiliki arti dan makna yang luas, terutama wafaq. Dalam Hukum Islam, wafaq adalah suatu perbuatan atau kebiasaan yang dianggap sesuai atau sejalan dengan prinsip-prinsip syariat Islam. Dalam hal ini, wafaq mencerminkan kesesuaian atau keselarasan dengan aturan agama serta doa- doa Mandi Safar lainnya, seperti yang ditemukan dalam kitab Majmu'min Tajil Muluk, untuk menghindari marabahaya, yang semua kegiatan itu tidak lepas dari ajaran agama Islam.en_US
dc.publisherUniversitas Islam Indonesiaen_US
dc.subjectMandi Safaren_US
dc.subjectAdat Melayuen_US
dc.subjectHukum Islamen_US
dc.titleKegiatan Mandi Safar dalam Pelaksanaan Adat Melayu di Kelurahan Daik Kecamatan Lingga Kabupaten Lingga Perspektif Hukum Islamen_US
dc.typeThesisen_US
dc.Identifier.NIM18421035


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record