Show simple item record

dc.contributor.authorPutri, Alfitriani Alislamic Burhamsi
dc.date.accessioned2025-02-18T07:07:45Z
dc.date.available2025-02-18T07:07:45Z
dc.date.issued2025
dc.identifier.uridspace.uii.ac.id/123456789/54850
dc.description.abstractLatar Belakang: Fungsi kognitif seseorang dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor sosiodemografik yang berperan dalam munculnya gangguan kognitif. Instrumen Montreal Cognitive Assessment (MoCA) digunakan untuk mendeteksi dan menilai gangguan kognitif secara komprehensif. Tujuan Penelitian: Mengetahui faktor-faktor sosiodemografik yang berhubungan dengan gangguan kognitif dan komponen MoCA-Ina pada penduduk di Kabupaten Magelang. Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan desain cross-sectional. Subjek penelitian adalah warga Kecamatan Pakis dan Mertoyudan di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Instrumen penelitian yang digunakan adalah MoCA-Ina. Analisis dalam penelitian ini meliputi, analisis bivariat dengan uji chi-square, uji normalitas residu, uji korelasi pearson dan spearman, regresi linier, serta ANOVA. Hasil: Penelitian menunjukkan bahwa gangguan kognitif memiliki hubungan signifikan dengan pendidikan terakhir dan pekerjaan (p=0.00). Faktor sosiodemografik memiliki hubungan signifikan dengan masing-masing komponen MoCA-Ina, yaitu lokasi dengan skor akhir MoCA, visuospasial/eksekutif, penamaan, bahasa, abstraksi, delayed recall, dan orientasi (p<0.05). Usia memiliki hubungan dengan skor akhir MoCA, visuospasial, abstraksi, dan delayed recall (p<0.05). Jenis kelamin dan merokok hanya berhubungan dengan komponen penamaan (p<0.05). Pendidikan terakhir berhubungan dengan skor MoCA, visuospasial/eksekutif, atensi, penamaan, bahasa, abstraksi, delayed recall, dan orientasi (p<0.05). Pekerjaan berhubungan dengan skor MoCA, visuospasial/eksekutif, penamaan, abstraksi, delayed recall, dan orientasi (p<0.05) dengan pekerjaan petani memiliki nilai yang lebih rendah pada komponen tersebut, serta lama bekerja (tahun) berhubungan dengan skor MoCA, visuospasial, abstraksi, delayed recall, dan orientasi (p<0.05). Hanya faktor sosiodemografik durasi bekerja (jam) yang tidak berhubungan dengan skor MoCA dan komponennya. Kesimpulan: Pendidikan terakhir dan pekerjaan memiliki hubungan dengan gangguan kognitif, sementara seluruh komponen MoCA-Ina berhubungan dengan pendidikan terakhir. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat pendidikan dapat mempengaruhi fungsi kognitif secara signifikan. Selain itu, pekerjaan juga berperan dalam gangguan kognitif, di mana petani menunjukkan skor yang lebih rendah pada komponen-komponen yang berhubungan.en_US
dc.publisherUniversitas Islam Indonesiaen_US
dc.subjectGangguan Kognitifen_US
dc.subjectFungsi Kognitifen_US
dc.subjectFaktor Sosiodemografiken_US
dc.subjectTingkat Pendidikanen_US
dc.subjectPekerjaanen_US
dc.subjectMoCA-Inaen_US
dc.titleHubungan Gangguan Kognitif dengan Faktor Sosiodemografik Pada Penduduk di Kabupaten Magelang Menggunakan Montreal Cognitive Assessment (MOCA)en_US
dc.typeThesisen_US
dc.Identifier.NIM21711162


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record