Show simple item record

dc.contributor.authorAnggani, Herninggar Aulia
dc.date.accessioned2025-01-24T03:52:20Z
dc.date.available2025-01-24T03:52:20Z
dc.date.issued2024
dc.identifier.uridspace.uii.ac.id/123456789/54615
dc.description.abstractKortisol merupakan obat yang ditemukan sejak 1948 yang banyak digunakan untuk berbagai macam penyakit, seperti autoimun, alergi, asma, penyakit paru obstruksi kronik serta keganasan tertentu. Salah satu efek samping dari obat ini adalah hiperglikemia. Secara global, penggunaan glukokortikoid oral dikaitkan dengan 2% kasus diabetes melitus baru. Ketika glukokortikoid diberikan selama 1-7 hari pada individu sehat, terjadi resistensi insulin dan gangguan homeostasis glukosa. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui profil peresepan kortikosteroid selama 2 tahun terakhir, untuk mengetahui pengaruh penggunaan kortikosteroid terhadap kejadian hiperglikemia, dan untuk mengetahui faktor-faktor yang mendukung terjadinya hiperglikemia pada pasien yang menggunakan kostikosteroid oral. Data profil peresepan kortikosteroid selama 2 tahun terakhir didapat melalui software aplikasi vmedis. Profil penggunaan kortikosteroid oral di Apotek Kota Madiun selama 2 tahun terakhir adalah Deksametason 0,5mg mengalami kenaikan sebesar 4,14%, Deksametason 0,75mg sebesar 16,43%, Metilprednisolon 4mg sebesar 14,2%, Metilprednisolon 8mg sebesar 4,69%, dan Deksametason 0,5mg + CTM sebesar 39,11%. Desain penelitian kohort digunakan untuk mengetahui bagaimana pengaruh kortikosteroid oral terhadap kejadian hiperglikemia. Jumlah sampel yang digunakan adalah 200 responden di dua apotek yang berbeda di Kota Madiun, dengan jumlah masing-masing 100 responden yang terbagi menjadi kelompok terpapar dan kelompok tidak terpapar. Paparan yang dimaksud adalah pasien yang mendapatkan resep salah satu kortikosteroid oral (metilprednisolon atau deksametason) dengan durasi selama 7 hari. Pada kedua kelompok ini dilakukan pengecekan kadar gula darah sebelum terpapar (KGD tahap I) dan 7 hari setelah terpapar (KGD tahap II), serta 24 jam setelah test kadar gula daran tahap II untuk pengelompokkan hiperglikemia atau tidak. Analisis data dengan menggunakan regresi binomial didapatkan hasil bahwa kortikosteroid oral berpengaruh terhadap terjadinya hiperglikemia. Risiko relative hiperglikemi akibat penggunaan kortikosteroid adalah sebesar 5,846, yang artinya pasien yang menggunakan kortikosteroid oral berisiko 5,846 kali lebih besar berpotensi hiperglikemia dibandingkan dengan pasien yang tanpa menggunakan kortikosteroid oral. Hasil analisis data menggunakan chi-square menunjukkan bahwa kortikosteroid oral berpengaruh terhadap kejadian hiperglikemia (p-value 0,000), dengan odd ratio sebesar 21,192. Artinya responden yang minum kortikosteroid oral beresiko 21,192 kali lebih besar mengalami hiperglikemia dibandingkan dengan yang tidak minum kortiksteroid oral. Kepada 100 responden ini juga diberikan kuisioner untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang memengaruhi terjadinya hiperglikemia. Faktor-faktor tersebut yang dianalisis anatar lain Riwayat keluarga DM, olahraga minimal 150 menit per minggu, makan lebih dari tiga kali sehari, minum manis lebih dari dua gelas per hari, makan lebih dari jam 7 malam, konsumsi buah dan sayur, minum air putih minimal delapan gelas per hari, kurang tidur malam, merokok dan minum alkohol tidak menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan terhadap kejadian hiperglikemia akibat penggunaan kortikosteroid oral.en_US
dc.publisherUniversitas Islam Indonesiaen_US
dc.subjectKortikosteroid Oralen_US
dc.subjectHiperglikemiaen_US
dc.subjectDrug Induced Hiperglycemiaen_US
dc.titlePengaruh Penggunaan Kortikosteroid Oral Terhadap Kejadian Hiperglikemia Pada Pasien Non-diabetes di Apotek Kota Madiunen_US
dc.typeThesisen_US
dc.Identifier.NIM22924001


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record