Pengaruh Penggunaan Kortikosteroid Oral Terhadap Kejadian Hiperglikemia Pada Pasien Non-diabetes di Apotek Kota Madiun
Abstract
Kortisol merupakan obat yang ditemukan sejak 1948 yang banyak digunakan untuk berbagai
macam penyakit, seperti autoimun, alergi, asma, penyakit paru obstruksi kronik serta
keganasan tertentu. Salah satu efek samping dari obat ini adalah hiperglikemia. Secara global,
penggunaan glukokortikoid oral dikaitkan dengan 2% kasus diabetes melitus baru. Ketika
glukokortikoid diberikan selama 1-7 hari pada individu sehat, terjadi resistensi insulin dan
gangguan homeostasis glukosa. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui profil
peresepan kortikosteroid selama 2 tahun terakhir, untuk mengetahui pengaruh penggunaan
kortikosteroid terhadap kejadian hiperglikemia, dan untuk mengetahui faktor-faktor yang
mendukung terjadinya hiperglikemia pada pasien yang menggunakan kostikosteroid oral.
Data profil peresepan kortikosteroid selama 2 tahun terakhir didapat melalui software aplikasi
vmedis. Profil penggunaan kortikosteroid oral di Apotek Kota Madiun selama 2 tahun
terakhir adalah Deksametason 0,5mg mengalami kenaikan sebesar 4,14%, Deksametason
0,75mg sebesar 16,43%, Metilprednisolon 4mg sebesar 14,2%, Metilprednisolon 8mg sebesar
4,69%, dan Deksametason 0,5mg + CTM sebesar 39,11%. Desain penelitian kohort
digunakan untuk mengetahui bagaimana pengaruh kortikosteroid oral terhadap kejadian
hiperglikemia. Jumlah sampel yang digunakan adalah 200 responden di dua apotek yang
berbeda di Kota Madiun, dengan jumlah masing-masing 100 responden yang terbagi menjadi
kelompok terpapar dan kelompok tidak terpapar. Paparan yang dimaksud adalah pasien yang
mendapatkan resep salah satu kortikosteroid oral (metilprednisolon atau deksametason)
dengan durasi selama 7 hari. Pada kedua kelompok ini dilakukan pengecekan kadar gula
darah sebelum terpapar (KGD tahap I) dan 7 hari setelah terpapar (KGD tahap II), serta 24
jam setelah test kadar gula daran tahap II untuk pengelompokkan hiperglikemia atau tidak.
Analisis data dengan menggunakan regresi binomial didapatkan hasil bahwa kortikosteroid
oral berpengaruh terhadap terjadinya hiperglikemia. Risiko relative hiperglikemi akibat
penggunaan kortikosteroid adalah sebesar 5,846, yang artinya pasien yang menggunakan
kortikosteroid oral berisiko 5,846 kali lebih besar berpotensi hiperglikemia dibandingkan
dengan pasien yang tanpa menggunakan kortikosteroid oral. Hasil analisis data menggunakan
chi-square menunjukkan bahwa kortikosteroid oral berpengaruh terhadap kejadian
hiperglikemia (p-value 0,000), dengan odd ratio sebesar 21,192. Artinya responden yang
minum kortikosteroid oral beresiko 21,192 kali lebih besar mengalami hiperglikemia
dibandingkan dengan yang tidak minum kortiksteroid oral. Kepada 100 responden ini juga
diberikan kuisioner untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang memengaruhi terjadinya
hiperglikemia. Faktor-faktor tersebut yang dianalisis anatar lain Riwayat keluarga DM,
olahraga minimal 150 menit per minggu, makan lebih dari tiga kali sehari, minum manis
lebih dari dua gelas per hari, makan lebih dari jam 7 malam, konsumsi buah dan sayur,
minum air putih minimal delapan gelas per hari, kurang tidur malam, merokok dan minum
alkohol tidak menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan terhadap kejadian hiperglikemia
akibat penggunaan kortikosteroid oral.
Collections
- Master of Pharmacy [32]
