Hubungan Antara Anosmia dan Tingkat Keparahan Gejala Penderita Covid-19: Sebuah Studi Scoping Review
Abstract
Latar Belakang: Coronavirus disease 2019 (COVID-19) merupakan sebuah
penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus severe acute respiratory syndrome
coronavirus 2 atau biasa dikenal dengan SARS-CoV-2. Gejala yang dialami oleh
pasien COVID-19 sangat bervariasi, seperti demam, batuk, flu, sesak napas,
mudah lelah, dan hilangnya kemampuan mengecap rasa dan mencium bau. Hal
ini menyebabkan diagnosis dini COVID-19 menjadi sulit. Namun, salah satu gejala
yang paling sering terjadi dan merupakan hal yang mudah disadari untuk diagnosis
COVID-19 yaitu anosmia atau hilangnya kemampuan indera penciuman. Adanya
gejala anosmia ini sering dikaitkan dengan rendahnya tingkat keparahan gejala
COVID-19 karena kebanyakan penderita dengan gejala anosmia tidak merasakan
gejala lain yang lebih parah. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian untuk
mengetahui hubungan antara anosmia dan tingkat keparahan gejala penderita
COVID-19.
Tujuan Penelitian: Mengetahui hubungan antara anosmia dan tingkat keparahan
gejala penderita COVID-19.
Metode Penelitian: Metode yang dilakukan yaitu scoping review dengan
menggunakan database Google Scholar, PubMed, dan Science Direct.
Hasil: Hasil dari pencarian, didapatkan 2.988 artikel yang selanjutnya dilakukan
seleksi dan didapatkan enam artikel untuk diekstraksi. Hasil enam artikel tersebut
didapatkan bahwa penderita COVID-19 dengan anosmia biasanya disertai dengan
gejala yang ringan, dapat menurunkan kadar sitokin pro-inflamasi berdasarkan
temuan laboratorium, dan menurunkan angka kebutuhan terhadap ventilasi dan
ruang intensive care (ICU).
Kesimpulan: Terdapat hubungan antara anosmia dan tingkat keparahan gejala
penderita COVID-19, yaitu memperingan keparahan gejala yang dapat dilihat
berdasarkan gejala penyerta, temuan hasil laboratorium, dan kebutuhan terhadap
ventilasi dan ruang ICU.
Collections
- Medical Education [2954]
