| dc.description.abstract | Dampak dari pembangunan yang tidak merata adalah ketimpangan ekonomi
yang dicerminkan melalui gini ratio. Ketimpangan dapat menyebabkan inefisiensi
ekonomi, menambah jumlah kemiskinan, dan memperkuat golongan tertentu
sehingga menimbulkan ketidakadilan bagi masyarakat. Provinsi Daerah Istimewa
Yogyakarta merupakan provinsi dengan gini ratio paling tinggi di Indonesia pada
tahun 2023 sehingga penting untuk meneliti faktor yang berpengaruh pada gini
ratio di provinsi tersebut dengan melakukan pemodelan menggunakan regresi data
panel. Namun, dalam pemodelannya terdapat masalah multikolinieritas pada
model common effect sehingga perlu dilakukan penanganan pada multikolinieritas
karena dapat menyebabkan model menjadi tidak stabil. Penanganan dilakukan
dengan metode regresi ridge untuk mengurangi variansi dari model common effect
akibat dari multikolinieritas. Pemodelan pada regresi ridge menggunakan dua
metode penentuan nilai tetapan bias, yaitu metode iterasi Hoerl, Kennard, &
Balwin dan cross validation. Hasil yang didapatkan adalah metode cross
validation memiliki performa yang lebih baik dibandingkan dengan metode iterasi
Hoerl, Kennard, & Balwin. Metode cross validation menghasilkan model dengan
MSE sebesar 0,2709 sedangkan metode iterasi Hoerl, Kennard, & Balwin
sebesar 0,3382. Kemudian model cross validation mampu menurunkan variansi
model common effect sebesar 0,0527 meskipun dengan menambahkan MSE
sebesar 0,0285 akibat dari penambahan nilai bias. Namun dengan penurunan
variansi yang terjadi, model cross validation memiliki kemampuan generalisasi
yang lebih baik dibandingkan dengan model common effect karena model lebih
stabil dalam menduga nilai parameter. Hasil ini dibuktikan dengan pengujian
model menggunakan data di luar data pemodelan. Pengujian menunjukkan, bahwa
model cross validation memiliki MSE lebih kecil, yaitu sebesar 0,1032
sedangkan model common effect sebesar 0,1061. Hasil ini menunjukkan, bahwa
model dengan penanganan multikolinieritas memiliki performa lebih baik
dibandingkan dengan model sebelum penanganan multikolinieritas. | en_US |