Show simple item record

dc.contributor.authorKelrey, Zulfahmi
dc.date.accessioned2024-12-03T03:34:08Z
dc.date.available2024-12-03T03:34:08Z
dc.date.issued2024
dc.identifier.uridspace.uii.ac.id/123456789/53866
dc.description.abstractAmbon memiliki potensi laut yang besar dari sektor perikanan, namun dengan kekayaan maritim yang dimiliki tidak didukung dengan kondisi pasar yang memadai, mulai dari kumuh, becek, dan bau. Jarak pasar Mardika yang ada sekarang terbilang cukup jauh dari sisi kota lain di Ambon. Untuk mencapai pasar Mardika ini dapat melalui jembatan Merah Putih dengan panjang kurang lebih 1 km atau memutari jalan di sekitar teluk yang jaraknya lebih jauh. Dengan pertimbangan tersebut dibuatlah bangunan pasar yang baru terletak di Kelurahan Rumah Tiga, Kecamatan Teluk Ambon agar mudah dicapai di sisi bagian utara teluk. Pasar Tradisional yang baru dengan pendekatan arsitektur regionalisme kritis yang berfokus pada 3 aspek yakni Architectonic Composition, Tactile Experience, dan Nature Experience. Ketiga aspek tersebut diintegrasikan dengan nilai-nilai tradisional, dan identitas lokal dalam hal ini karakter budaya jual beli di pasar tradisional yang ada di Ambon dan arsitektur Maluku. Karakter yang khas saat membeli ikan selain menggunakan keranjang juga menggunakan ember apabila ikan yang dibeli dalam jumlah banyak. Pasar ini dapat menjadi wadah bagi pedagang dan pembeli melakukan aktivitas jual beli, dengan nilai lokalitas yang ditimbulkan menjadi daya tarik masyarakat untuk merasakan nilai lokalitas dengan pengalaman visual, termal, taktil, dan aroma pada saat berbelanja. Komoditi utama yang dijual yakni ikan dan hasil laut lainnya disamping kebutuhan pangan lain. Metode yang digunakan yakni obervasi langsung ke Pasar Mardika di Ambon, Pasar Kolombo dan Pasar Gentan yang berada di Jogja. Selain itu observasi secara digital untuk mencari variabel terkait Arsitektur Regionalisme Kritis dari jurnal. Kajian literatur untuk mendukung analisis dari jurnal, buku, dan SNI terkait Pasar Tradisional. Hasil rancangan pasar yang baru terdiri dari 2 lantai, lantai 1 terdapat zona basah dan zona kering yang dipisahkan dengan zona transisi. Lantai 2 terdiri dari area pangan, baik berupa kios yang menjual olahan makanan dari ikan, area makan, dan area produksi ikan asap sebagai salah satu makanan lokal masyarakat Ambon. Penyelesaian persoalan visual ada beberapa titik, pertama pada lantai 1 dari dalam bisa melihat ke view ke luar. Selain itu dari titik luar di depan bangunan dapat melihat fasad bangunan yang menunjukkan bangunan tradisional yang diadopsi dari rumah Baileo sebagai rumah tradisonal Maluku. Dari area makan di lantai 2 dapat melihat ke arah laut teluk melalui dinding kayu tidak masif dengan motif matahari (ornamen khas Ambon). Penyelesaian termal ditunjukkan pada penggunaan dinding kayu memiliki pola dari motif matahari yang memiliki bukaan tanpa pembatas masif dan penggunaan atap dengan konstruksi yang mempunyai celah di bagian atap agar angin dapat keluar. Penyelesaian Taktil ditunjukkan dengan penggunaan material alami seperti kayu pada bagian dinding dan ceilling sebagai wayfinding dalam menciptakan kesan ruang yang hangat. Penyelesaian aroma ditunjukkan dengan perletakkan zona basah khususnya ikan dan daging yang merespon arah angin. Penggunaan vegetasi pada lansekap yang memiliki aroma khas yakni pohon suren untuk mengurangi bau dari zona pasar basah.en_US
dc.publisherUniversitas Islam Indonesiaen_US
dc.subjectAmbonen_US
dc.subjectPasar Tradisionalen_US
dc.subjectKarakter Jual Belien_US
dc.subjectRegionalismeen_US
dc.titlePerancangan Pasar Tradisional Rumah Tiga dengan Pendekatan Regionalisme Kritis di Ambonen_US
dc.typeThesisen_US
dc.Identifier.NIM20512113


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record