Perancangan Pasar Tradisional Rumah Tiga dengan Pendekatan Regionalisme Kritis di Ambon
Abstract
Ambon memiliki potensi laut yang besar dari sektor perikanan, namun dengan kekayaan maritim yang dimiliki tidak
didukung dengan kondisi pasar yang memadai, mulai dari kumuh, becek, dan bau. Jarak pasar Mardika yang ada
sekarang terbilang cukup jauh dari sisi kota lain di Ambon. Untuk mencapai pasar Mardika ini dapat melalui jembatan
Merah Putih dengan panjang kurang lebih 1 km atau memutari jalan di sekitar teluk yang jaraknya lebih jauh. Dengan
pertimbangan tersebut dibuatlah bangunan pasar yang baru terletak di Kelurahan Rumah Tiga, Kecamatan Teluk
Ambon agar mudah dicapai di sisi bagian utara teluk. Pasar Tradisional yang baru dengan pendekatan arsitektur
regionalisme kritis yang berfokus pada 3 aspek yakni Architectonic Composition, Tactile Experience, dan Nature
Experience. Ketiga aspek tersebut diintegrasikan dengan nilai-nilai tradisional, dan identitas lokal dalam hal ini
karakter budaya jual beli di pasar tradisional yang ada di Ambon dan arsitektur Maluku. Karakter yang khas saat
membeli ikan selain menggunakan keranjang juga menggunakan ember apabila ikan yang dibeli dalam jumlah
banyak. Pasar ini dapat menjadi wadah bagi pedagang dan pembeli melakukan aktivitas jual beli, dengan nilai
lokalitas yang ditimbulkan menjadi daya tarik masyarakat untuk merasakan nilai lokalitas dengan pengalaman visual,
termal, taktil, dan aroma pada saat berbelanja. Komoditi utama yang dijual yakni ikan dan hasil laut lainnya
disamping kebutuhan pangan lain. Metode yang digunakan yakni obervasi langsung ke Pasar Mardika di Ambon,
Pasar Kolombo dan Pasar Gentan yang berada di Jogja. Selain itu observasi secara digital untuk mencari variabel
terkait Arsitektur Regionalisme Kritis dari jurnal. Kajian literatur untuk mendukung analisis dari jurnal, buku, dan SNI
terkait Pasar Tradisional. Hasil rancangan pasar yang baru terdiri dari 2 lantai, lantai 1 terdapat zona basah dan zona
kering yang dipisahkan dengan zona transisi. Lantai 2 terdiri dari area pangan, baik berupa kios yang menjual olahan
makanan dari ikan, area makan, dan area produksi ikan asap sebagai salah satu makanan lokal masyarakat Ambon.
Penyelesaian persoalan visual ada beberapa titik, pertama pada lantai 1 dari dalam bisa melihat ke view ke luar.
Selain itu dari titik luar di depan bangunan dapat melihat fasad bangunan yang menunjukkan bangunan tradisional
yang diadopsi dari rumah Baileo sebagai rumah tradisonal Maluku. Dari area makan di lantai 2 dapat melihat ke arah
laut teluk melalui dinding kayu tidak masif dengan motif matahari (ornamen khas Ambon). Penyelesaian termal
ditunjukkan pada penggunaan dinding kayu memiliki pola dari motif matahari yang memiliki bukaan tanpa
pembatas masif dan penggunaan atap dengan konstruksi yang mempunyai celah di bagian atap agar angin dapat
keluar. Penyelesaian Taktil ditunjukkan dengan penggunaan material alami seperti kayu pada bagian dinding dan
ceilling sebagai wayfinding dalam menciptakan kesan ruang yang hangat. Penyelesaian aroma ditunjukkan dengan
perletakkan zona basah khususnya ikan dan daging yang merespon arah angin. Penggunaan vegetasi pada lansekap
yang memiliki aroma khas yakni pohon suren untuk mengurangi bau dari zona pasar basah.
Collections
- Architecture [3971]
