Perancangan Rantai Pasok Produk Fashion Bekas Pakai dengan Pendekatan Comprehensive Action Determine Model (CADM) dan Actor Network Theory (Ant)
Abstract
Budaya thrifting di Indonesia sebagian besar bergantung pada pakaian bekas impor, dengan
impor mencapai 6,56 juta kg pada tahun 2020. Namun, praktik ini belum mengatasi
meningkatnya sampah fesyen domestik, yang menyumbang 2,63% dari 33,9 juta ton sampah
yang dihasilkan di Indonesia pada tahun 2022. Oleh karena itu, diperlukan perancangan
rantai pasok untuk mendistribusikan produk bekas pakai yang berasal dari masyarakat di
kota Yogyakarta agar dapat dijual kembali dengan kualitas yang tidak kalah dengan produk
fashion bekas pakai impor. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan perancangan rantai
pasok produk fashion bekas yang bersumber dari masyarakat di kota Yogyakarta dan
mengeksplorasi pembentukan organisasi di Yogyakarta untuk mengelola pakaian yang
didonasikan oleh masyarakat di kota Yogyakarta serta memastikan kualitas produk sebelum
dijual kembali. Penelitian ini menggunakan Actor Network Theory (ANT) untuk merancang
aliran rantai pasokan pendistribusian produk fashion bekas dari masyarakat di Yogyakarta
ke penjual thrifting. Penelitian ini juga mengkaji perubahan perilaku di antara penjual
thrifting agar menjual produk fashion bekas pakai berasal dari masyarakat Indonesia yang
telah dikelola oleh organisasi thrifting Yogyakarta, menggunakan skenario intervensi
dengan pendekatan Comprehensive Action Determine Model (CADM) dan hasil eksperimen
tersebut akan diuji statistik untuk didapatkan intervensi terbaik. Hasil penelitian terdapat
hasil perancangan aliran rantai pasok barang bekas fashion dari masyarakat di kota
Yogyakarta sampai dijual kembali ke masyarakat dan terdapat pihak organisasi thrifting
Yogyakarta yang meningkatkan kualitas barang hasil donasi masyarakat sebelum dijual
kembali. Dalam penelitian ini didapatkan hasil uji statistik Anova sig. <0.05 dan hasil Uji
Scheffe intervensi 3 berada pada subset yang berbeda dengan intervensi 1 dan 2, sehingga
diketahui intervensi yang paling efektif adalah dengan memberikan informasi perbandingan
harga dan kualitas barang bekas impor dibandingkan barang yang bersumber dari lokal yang
dikelola oleh lembaga Yogyakarta.
