Sistem Berbasis Kasus untuk Konseling Remaja SMP dalam Menghadapi Era New Normal
Abstract
Pandemi Covid-19 yang telah terjadi di Indonesia sejak awal 2020 memberikan
dampak yang signifikan bagi semua orang, tidak terkecuali anak-anak. Di masa pandemi,
anak-anak yang seharusnya menghabiskan waktu untuk belajar, bersosialisasi, dan bermain
bersama teman-teman di sekolah, menjadi tergantikan dengan waktu yang mereka habiskan
di rumah untuk bermain gawai. Kebiasaan aktivitas daring yang dilakukan oleh anak-anak
mengakibatkan mereka kecanduan menggunakan gawai yang membuat mereka jarang
bersosialisasi dengan sekitarnya.
Pada era kebiasaan baru (new normal) yang telah ditetapkan oleh pemerintah, semua
instansi pendidikan juga memberlakukan pertemuan tatap muka atau sekolah luring kepada
siswa-siswanya. Adanya sekolah luring yang diterapkan tentu saja menimbulkan berbagai
peristiwa yang kerap dialami oleh anak dalam beradaptasi dengan kebiasaan baru. Kondisi
ini menuntut orang tua dan guru harus berlaku bijak dalam memberikan keputusan, sehingga
anak-anak tidak mengalami gangguan perilaku yang akan sangat berpengaruh pada kondisi
mentalnya.
Penelitian ini memiliki rumusan masalah bagaimana membuat pemodelan untuk
membangun sistem berbasis kasus yang mendukung konseling elektronik (e-konseling) anak
dalam menghadapi era kebiasaan baru. Kasus-kasus yang dikumpulkan tidak hanya
permasalahan yang melibatkan kekhawatiran orang tua ketika membiarkan anaknya
berinteraksi di luar rumah, namun juga bagaimana cara orang tua dan guru dalam
menghadapi permasalahan anak dalam menghadapi era new normal. Hasil e-konseling ini
akan memberikan solusi berupa rekomendasi tindakan bagaimana cara mengatasi
permasalahan.
Penelitian dilakukan dalam beberapa tahapan, yaitu: pengumpulan data dan kajian
literatur, pemodelan, evaluasi model, serta membangun & evaluasi prototipe. Basis kasus
berisi minimal 90 kasus yang diperoleh dari wawancara kepada orang tua yang memiliki
anak remaja SMP dan guru SMP, serta penyebarluasan kuesioner melalui google form.
Solusi atas kasus yang dikumpulkan diperoleh dari konselor melalui Focus Group
Discussion (FGD). Selanjutnya empat proses penalaran berbasis kasus akan diterapkan pada
iv
penelitian ini, yaitu retrieve, reuse, revise, dan retain. Fungsi similaritas modified weighted
average dipilih untuk mengukur nilai kemiripan kasus yang akan dievaluasi dengan kasuskasus yang ada di basis kasus.
Pengujian model dilakukan dengan kasus-kasus yang telah ada yang tidak disertakan
dalam basis kasus. Selain menggunakan kasus yang sudah ada, pengujian model juga
dilakukan dengan menghadirkan para konselor dalam forum FGD. Setelah model dinyatakan
valid, selanjutnya dibuat prototipe berbasis website dengan PHP dan MySQL. Pengujian
prototipe dilakukan menggunakan uji usabilitas yang akan diberikan kepada calon pengguna
(guru, orang tua/wali murid dan konselor) untuk mengukur kemudahan dan kesesuaian
prototipe dengan kebutuhan penguna tersebut.
Collections
- Master of Informatics [361]
