| dc.description.abstract | Seiring dengan meningkatnya kebutuhan energi, pengembangan sumber energi berkelanjutan menjadi sangat penting. Listrik diprediksi dapat menjadi satu pilihan energi berkelanjutan karena dapat dihasilkan dari sumber rendah emisi karbon seperti matahari (photovoltaic/sel surya), pembangkit listrik tenaga air (PLTA), dan pembangkit listrik tenaga biomassa (PLTB). Metanol dan dimetil eter (DME) adalah bahan kimia dengan kepadatan energi tinggi sehingga sangat potensial sebagai bahan bakar. DME dapat diproduksi melalui proses elektrokimia yang memanfaatkan listrik (power-to-DME), sedangkan metanol dapat dihasilkan langsung dari biomassa melalui proses termal. Oleh karena itu, perlu diketahui kelayakan dari aspek ekonomi dan lingkungan pada produksi metanol dan DME dengan proses berkelanjutan. Pada saat ini proses power-to-DME tidak ekonomis. Levelized cost DME didapatkan sebesar $1695/ton-DME, yang itu berarti 3,4 kali lebih tinggi dibandingkan dengan metode konvensional ($500/ton-DME). Proses ini dapat menjadi lebih ekonomis jika biaya elektrolisis air dan harga elektrolizer turun di bawah 52 kWh/kg-H2 dan $200/kW, serta harga listrik kurang dari $0,03/kWh. Selain itu, faktor emisi listrik harus di bawah 19 g-CO2/kWh untuk memberikan manfaat lingkungan pada rute power-to-DME. Untuk penyederhanaan proses dan menekan biaya produksi, sumber energi dapat diganti dari listrik menjadi biomassa dan produk diganti dari DME menjadi metanol. Untuk proses biomass-to-metanol, diperlukan harga biomassa <195 $/ton dan harga gasifier di bawah 1000 $/kW agar harga metanol dapat kompetitif. Emisi CO2 dari metanol dari biomassa juga bernilai negatif, yaitu –0,562 kg-CO2/kg-metanol untuk tandan kosong kelapa sawit dan –0,728 kg-CO2/kg-metanol untuk alga. | en_US |