Analisis Potensi Penyebab Kecelakaan Kerja pada Pabrik Kelapa Sawit (PKS) Menggunakan Metode Hazard Identification And Risk Assessment (HIRA) dan Job Safety Analysis (JSA) (Studi Kasus: Pabrik Kelapa Sawit (PKS) Kedukul Factory PT. Citranusa Intisawit)
Abstract
PT. Citranusa Intisawit merupakan perusahaan yang bergerak di bidang perkebunan
kelapa sawit dan pengolahan Crude Palm Oil (CPO). Terdapat 6 stasiun proses
pengolahan Inti dalam melakukan pengolahan minyak kelapa sawit (CPO) pada Pabrik
Kelapa Sawit (PKS) Kedukul antara lain Stasiun Loading Rame, Stasiun Perebusan
(Sterilizer), stasiun Bantingan (Tresher), stasiun Pressing, stasiun Inti Kelapa Sawit
(Kernel) dan stasiun Klarifikasi (Pemurnian CPO). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
mengetahui potensi resiko paling bahaya yang dapat menyebabkan kecelakaan kerja di
area proses pengolahan, mencari dan menemukan nilai level resiko yang diperoleh dari
hasil identifikasi resiko pada area proses pengolahan serta memberikan rekomendasi atau
solusi yang dapat dilakukan untuk mengurangi resiko yang paling tinggi dan berbahaya
pada area proses pengolahan Crude Palm Oil (CPO). Metode yang digunakan pada
penelitian ini yaitu Hazard Identification and Risk Assessment (HIRA) dan Job Safety
Analysis (JSA). Hasil dari penelitian ini yaitu potensi paling bahaya (ekstrim) terjadi pada
stasiun perebusan (sterilizer) dan stasiun bantingan. Jumlah nilai resiko tertinggi yaitu
pertama stasiun Perebusan (Sterilizer) dengan jumlah nilai resiko sebesar 45, kedua
stasiun Pengempaan (pressing) dengan jumlah nilai resiko sebesar 39, ketiga diikuti oleh
stasiun loading rame dengan jumlah resiko sebesar 37, keempat stasiun bantingan dengan
jumlah nilai resiko sebesar 31, kelima stasiun klarifikasi dengan jumlah nilai resiko
sebesar 23 dan untuk urutan keenam atau terakhir dengan jumlah nilai resiko terendah di
miliki oleh stasiun inti kelapa sawit dengan jumlah nilai resiko sebesar 20. Rekomendasi
yang diberikan yaitu pertama pengendalian rekayasa yaitu dengan menambah tanda –
tanda atau simbol – simbol bahaya/ peringatan. Kedua melakukan pengendalian Alat
Pelindung Diri (APD) yaitu penggunaan APD seperti kaca mata safety, helm safety,
sepatu safety, sarung tangan, penutup telinga serta wear pack. Ketiga melakukan
pengendalian administrasi yaitu dengan rutin membuat penjadwalan pelatihan
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), sosialisasi terkait K3 untuk semua operator
Pabrik dan pembuatan Standar operasional prosedur (SOP) untuk setiap stasiun
pengolahan. Keempat melakukan pengendalian substitusi yaitu melakukan penggantian
material terutama penggantian sling dan pengait lori pada stasiun perebusan secara
berkala. Kelima melakukan eliminasi yaitu eliminasi dilakukan dengan upaya
menghentikan peralatan atau sumber yang dapat menimbulkan bahaya seperti pada pipa
klarikasi.
Collections
- Industrial Engineering [2835]
