Show simple item record

dc.contributor.authorW, Hasnadika Nabilah. A.
dc.contributor.authorFadaiyah, Rani Abid
dc.date.accessioned2024-10-24T07:05:31Z
dc.date.available2024-10-24T07:05:31Z
dc.date.issued2024
dc.identifier.uridspace.uii.ac.id/123456789/53143
dc.description.abstractDengan meningkatnya populasi penduduk Indonesia khusunya pada usia muda yang sudah mulai memiliki kesadaran atas tren kecantikan, menyebabkan lahirnya banyak indsutri di bidang kosmetik lokal. Pertumbuhan yang cukup signifikan pada industri kosmetik ini ditandai dengan jumlah pertumbuhan jumlah indsutri kosmetik Indonesia yang mecapai 21,9%. Dikutip dari Siaran Pers Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia, sekitar 913 perusahaan pada tahun 2022 meningkat menjadi 1.010 perusahaan hanya pada pertengahan 2023. Industri kosmetik dari brand lokal pun dapat menembus pasar luar negeri dengan jumlah ekspor secara kumulatif adalah USD 770,8 juta yang mencakup produk kosmetik, wewangian, dan essential oils. Salah satu bahan baku untuk produk-produk kecantikan seperti body lotion, antiperspirant, parfum eu de toilette, shampoo memiliki kandungan fenil asetat (McGinty, 2012). Namun, Indonesia saat ini belum memiliki pabrik dalam negeri yang memproduksi langsung fenil asetat. Dengan adanya pabrik fenil asetat tersendiri di Indonesia dapat menunjang kebutuhan fenil asetat dalam negeri tanpa harus melakukan impor. Oleh karena itu akan dibangun pabrik fenil asetat dengan kapasitas 20.000 ton/tahun. Pabrik akan didirikan di daerah karanganyar, Jawa Tengah seluas 30.720 m2. Proses ini dilakukan pada kondisi operasi 30°C dengan tekanan 1 atm. Untuk mencapai kapasitas 20.000 ton/tahun diperlukan bahan baku utama yaitu fenol sebesar 17.778 ton/tahun dan asam asetat sebesar 11.256 ton/tahun dengan katalis h-β sebanyak 1.123 ton/tahun. Selain itu dibutuhkan komponen penunjang seperti steam 20.903,71 kg/jam, udara tekan 82,24 m3 /jam, listrik keseluruhan 1.100 kW, solar 1.913,6 kg/jam. Pabrik dikategorikan low risk ditinjau dari bahan baku yang digunakan dan proses yang dilalui. Berdasarkan analisa ekonomi diketahui bahwa keuntungan setelah pajak sebesar Rp114.095.267.103, Return on Investment setelah pajak sebesar 13%, Pay Out Time (POT) setelah pajak sebesar 4,3 tahun, Break Even Point (BEP) sebesar 51,25%, Shut Down Point (SDP) sebesar 29,31% dan Discounted Cash Flow Rate (DCFR) sebesar 12%. Berdasarkan hasil evaluasi ekonomi tersebut dapat disimpulkan bahwa pabrik fenil asetat layak secara ekonomi untuk didirikan.en_US
dc.publisherUniversitas Islam Indonesiaen_US
dc.subjectFenil Asetaten_US
dc.subjectFenolen_US
dc.subjectZeolite h-βen_US
dc.subjectReaktor Alir Tangki Berpengaduken_US
dc.titlePra Rancangan Pabrik Fenil Asetat dari Fenol dan Asam Asetat Kapasitas 20.000 Ton/tahunen_US
dc.typeThesisen_US
dc.Identifier.NIM20521218
dc.Identifier.NIM20521160


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record