| dc.description.abstract | Teknologi informasi (TI) merupakan salah satu investasi strategis bagi perbankan.
Penggunaan TI oleh suatu bank dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas kegiatan
operasional serta meningkatkan daya saing bank. Mengingat bahwa teknologi informasi
merupakan suatu investasi yang mahal, sementara dalam penyelenggaraannya mengandung
berbagai risiko, maka Bank perlu menerapkan tata kelola teknologi informasi (IT
Governance). Bank dituntut untuk menerapkan berbagai standar untuk tata kelola
teknologi informasi di berbagai aspek, salah satunya adalah aspek manajemen insiden TI.
Layanan TI di Bank merupakan hal yang krusial karena diharuskan bekerja secara
maksimal tanpa henti. Bank harus menjamin pengelolaan dan pencegahan setiap masalah
yang muncul guna mendukung keberlangsungan proses bisnis perusahaan. Salah satu
framework yang dapat digunakan untuk manajemen insiden layanan TI yang baik adalah
Information Technology Infrasturcture Library version 3 (ITIL v3). Manajemen insiden
ITIL bertujuan untuk memulihkan layanan TI yang terganggu kembali ke keadaan
normalnya dan mengurangi dampak bisnis yang ditimbulkan. Untuk mengukur sejauh
mana Bank sudah menyelenggarakan Tata Kelola Manajemen Insiden TI, dilakukan
pengukuran tingkat kematangan dengan cara membandingkan keadaan saat ini (as is) dan
keadaan yang diinginkan (to be) untuk memperoleh kesenjangannya (gap). Proses
pengukuran tingkat kematangan dilakukan dengan metode wawancara dan kuesioner yang
ditujukan kepada seluruh stakeholder yang terlibat dalam keseluruhan proses manajemen
insiden TI. Hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan 15 dari 42 atribut proses
manajemen insiden TI yang belum mencapai keadaan yang diinginkan. Berdasarkan
temuan kesenjangan tersebut, dirumuskan rekomendasi tata kelola manajemen insiden TI
yang berdasarkan framework ITIL v3 yang diharapkan ketika sudah diterapkan dalam
operasional Bank sehari-hari akan meningkatkan ketersediaan layanan, khususnya pada
layanan TI Bank. | en_US |