Prarancangan Pabrik Glukomanan dari Umbi Porang dengan Kapasitas 7.500 Ton/tahun
Abstract
Salah satu upaya dalam meningkatkan perekonomian Indonesia yakni dengan
mendirikan pabrik kimia, salah satunya Pabrik Glukomanan. Glukomanan merupakan
polisakarida nonpati yang dikenal sebagai serat larut air dengan ikatan polisakarida
yang memiliki karbohidrat tinggi. Glukomanan dapat digunakan sebagai bahan
campuran dalam pembuat beras tiruan, pembuatan mie dan pasta, serta digunakan
dalam industri kimia, kertas, farmasi, kosmetik, dan lainnya. Pembangunan pabrik
glukomanan dari umbi porang direncanakan di Saradan, Madiun, Jawa Timur dengan
luas tanah 12.535 m2
. Pabrik ini didirikan dengan mempertimbangkan ketersediaan
bahan baku, sarana transportasi yang memadai, tenaga kerja, perizinan, dan kondisi
sosial masyarakat. Pabrik ini dapat memproduksi glukomanan sebanyak 7.500
ton/tahun dengan waktu operasi 330 hari/tahun selama 24 jam/hari dalam bentuk
perusahaan Perseroan Terbatas (PT) dan 110 karyawan untuk mendukung berjalannya
pabrik. Banyaknya bahan baku yang digunakan yakni umbi porang sebesar 6.324
kg/jam. Proses pembuatan glukomanan terdiri dari tiga tahap yakni pretreatment bahan
baku, purifikasi atau pemurnian glukomanan, dan modifikasi produk. Pretreatment
bahan baku diawali dengan pengupasan kulit pada umbi porang dan pencucian untuk
menghilangkan kotoran yang menempel pada buah umbi porang. Selanjutnya,
dilakukan pengecilan partikel umbi porang menjadi bentuk chips yang berfungsi untuk
memperbesar luas kontak reaksi, sehingga proses dapat berjalan lebih cepat. Proses
penghilangan kalsium oksalat dan zat pengotor glukomanan dilakukan untuk
meningkatkan konsentrasi glukomanan sehingga kualitas glukomanan dapat
meningkat. Proses ini terbagi menjadi tiga tahap utama yang melibatkan alat berupa
reaktor (RATB) dan mixing tank. Tahap pertama merupakan proses yang melibatkan
reaksi, yaitu dengan melibatkan NaCl 8%. Zat ini akan menurunkan kadar kalsium
oksalat yang tidak diinginkan. Tahap kedua dilakukan dengan menambahkan
aluminium sulfat yang berfungsi sebagai agen koagulan pengikat impurities. Tahap
ketiga adalah proses menambahkan etanol, dimana impurities akan terbawa bersama
etanol dan proses ini akan menghasilkan high grade glukomanan dalam bentuk
granula. Modifikasi produk dilakukan dengan penggilingan menggunakan alat ball mill
dan pengayakan dengan screener berukuran 140 mesh. Hasil analisis ekonomi
diperoleh ROI sebelum dan sesudah pajak 19,25% dan 14,44%, POT sebelum dan
sesudah pajak selama 3,42 tahun dan 4,09 tahun, BEP 57,26% dan SDP 26,18%.
Berdasarkan parameter kelayakan diatas dapat disimpulkan bahwa pabrik glukomanan
dari umbi porang dengan kapasitas 7.500 ton/tahun layak untuk didirikan.
Collections
- Chemical Engineering [1334]
