Show simple item record

dc.contributor.authorYN, Istiqomah
dc.contributor.authorHS, Dian Fatima Sari
dc.date.accessioned2024-10-18T06:41:06Z
dc.date.available2024-10-18T06:41:06Z
dc.date.issued2024
dc.identifier.uridspace.uii.ac.id/123456789/52645
dc.description.abstractSalah satu komoditas unggulan dalam sektor pertambangan Indonesia adalah nikel. Nikel adalah unsur logam berwarna perak terbentuk secara alami yang umum ditemukan pada bagian kerak bumi. Indonesia memiliki 52% dari cadangan nikel dunia, dimana Indonesia mampu menghasilkan 1 juta metrik ton yang berkontribusi terhadap 37,04% produksi nikel dunia sehingga Indonesia berperan penting dalam penyediaan bahan baku nikel dunia. Untuk mendukung upaya pemerintah, pendirian industri upstream menjadi penting untuk komoditas nikel yaitu dengan cara melakukan pengambilan nikel pada industri upstream dari bijih nikel yaitu melalui pembentukan intermediate berupa nikel (II) sulfida (NiS) yang diharapkan mampu mengolah bijih nikel dalam negeri. Atas dasar ini, dibuat prarancangan pabrik nikel sulfida dari bijih nikel laterit kapasitas 20.000 ton/tahun. Pabrik ini direncanakan didirikan pada tahun 2030 yang terletak di kabupaten Kolaka, Sulaewesi Tenggara ditinjau dari berbagai faktornya. Nikel sulfida dihasilkan melalui proses hydrometallurgy. Proses leaching dilakukan terhadap NiO dari bijih laterit menggunakan H2SO4 dalam reaktor alir tangki berpengaduk (RATB) yang terjadi pada suhu 250 °C dan tekanan 41 bar, dengan kondisi endotermis dan dilengkapi jaket pemanas. Konversi NiO menjadi NiSO4 sebesar 97%. Residu padatan selanjutnya dipisahkan dari larutan hasil reaksi. Sedangkan larutan hasil reaksi reaktor 1 tersebut direaksikan dengan gas H2S sehingga didapatkan endapan logam sulfida yang didominasi oleh NiS. Reaksi berlangsung pada suhu 120°C dan tekanan 6,8 bar dalam Reaktor gelembung dengan kodisi isotermis dan dilengkapi dengan coil pendingin. Konversi NiSO4 menjadi NiS sebesar 98%. Cairan kemudian dipisahkan dengan slurry menggunakan filtering centrifuge dan rotary dryer untuk menghilangkan kandungan air hingga 1%, sehingga diperoleh padatan NiS. Untuk mendukung berjalannya pabrik ini digunakan air sebesar 9354,71 kg/jam yang berasal dari sungai Mekongga. Kebutuhan listrik mencapai 1584,69 kW. Berdasrakan hasil analisa ekonomi menunjukkan Return Of Investment (ROI) sebesar 53,88% sebelum pajak dan 40,41% setelah pajak. Pay Out Time (POT) sebesar 1,6 tahun sebelum pajak dan 2,0 tahun setelah pajak. Break Even Point (BEP) sebesar 43,4%, Shut Down Point (SDP) sebesar 30,41%. Berdasarkan dari analisa dapat disimpulkan bahwa pabrik nikel sulfida dari bijih nikel laterit layak untuk didirikan.en_US
dc.publisherUniversitas Islam Indonesiaen_US
dc.subjectNikelen_US
dc.subjectBijih Lateriten_US
dc.subjectHidrometalurgien_US
dc.titlePrarancangan Pabrik Nikel Sulfida dari Bijih Nikel Laterit Kapasitas 20.000 Ton/tahunen_US
dc.typeThesisen_US
dc.Identifier.NIM20521184
dc.Identifier.NIM20521166


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record