Prarancangan Pabrik Nikel Sulfida dari Bijih Nikel Laterit Kapasitas 20.000 Ton/tahun
Abstract
Salah satu komoditas unggulan dalam sektor pertambangan Indonesia adalah nikel. Nikel
adalah unsur logam berwarna perak terbentuk secara alami yang umum ditemukan pada
bagian kerak bumi. Indonesia memiliki 52% dari cadangan nikel dunia, dimana Indonesia
mampu menghasilkan 1 juta metrik ton yang berkontribusi terhadap 37,04% produksi nikel
dunia sehingga Indonesia berperan penting dalam penyediaan bahan baku nikel dunia.
Untuk mendukung upaya pemerintah, pendirian industri upstream menjadi penting untuk
komoditas nikel yaitu dengan cara melakukan pengambilan nikel pada industri upstream
dari bijih nikel yaitu melalui pembentukan intermediate berupa nikel (II) sulfida (NiS) yang
diharapkan mampu mengolah bijih nikel dalam negeri. Atas dasar ini, dibuat prarancangan
pabrik nikel sulfida dari bijih nikel laterit kapasitas 20.000 ton/tahun. Pabrik ini
direncanakan didirikan pada tahun 2030 yang terletak di kabupaten Kolaka, Sulaewesi
Tenggara ditinjau dari berbagai faktornya. Nikel sulfida dihasilkan melalui proses
hydrometallurgy. Proses leaching dilakukan terhadap NiO dari bijih laterit menggunakan
H2SO4 dalam reaktor alir tangki berpengaduk (RATB) yang terjadi pada suhu 250 °C dan
tekanan 41 bar, dengan kondisi endotermis dan dilengkapi jaket pemanas. Konversi NiO
menjadi NiSO4 sebesar 97%. Residu padatan selanjutnya dipisahkan dari larutan hasil
reaksi. Sedangkan larutan hasil reaksi reaktor 1 tersebut direaksikan dengan gas H2S
sehingga didapatkan endapan logam sulfida yang didominasi oleh NiS. Reaksi berlangsung
pada suhu 120°C dan tekanan 6,8 bar dalam Reaktor gelembung dengan kodisi isotermis
dan dilengkapi dengan coil pendingin. Konversi NiSO4 menjadi NiS sebesar 98%. Cairan
kemudian dipisahkan dengan slurry menggunakan filtering centrifuge dan rotary dryer
untuk menghilangkan kandungan air hingga 1%, sehingga diperoleh padatan NiS. Untuk
mendukung berjalannya pabrik ini digunakan air sebesar 9354,71 kg/jam yang berasal dari
sungai Mekongga. Kebutuhan listrik mencapai 1584,69 kW. Berdasrakan hasil analisa
ekonomi menunjukkan Return Of Investment (ROI) sebesar 53,88% sebelum pajak dan
40,41% setelah pajak. Pay Out Time (POT) sebesar 1,6 tahun sebelum pajak dan 2,0 tahun
setelah pajak. Break Even Point (BEP) sebesar 43,4%, Shut Down Point (SDP) sebesar
30,41%. Berdasarkan dari analisa dapat disimpulkan bahwa pabrik nikel sulfida dari bijih
nikel laterit layak untuk didirikan.
Collections
- Chemical Engineering [1334]
