Perancangan Rehabilitasi Terpadu Narkoba di Sidoarjo, Jawa Timur dengan Pendekatan Islamic Healing Environment
Abstract
Kasus penyalahgunaan narkoba yang meningkat dan menyebar luas di lingkungan dengan pencandu dari
berbagai usia , mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, khususnya di Sidoarjo. Sidoarjo sebagai salah satu wilayah
di Jawa Timur mengalami kenaikan kasus penyalahgunaan narkotika sebesar 23,78% dari tahun sebelumnya. Namun
keterbatasan jumlah pusat rehabilitasi di Jawa Timur yang hanya berjumlah 16, menjadi penyebab rendahnya jumlah
individu yang direhabilitasi.
Melalui perancangan bangunan Rehabilitasi Terpadu Narkoba di Sidoarjo dengan Pendekatan Islamic Healing
Environment diharapkan mampu mengatasi isu non-arsitektural, khususnya peningkatan jumlah pengguna narkoba di
Sidoarjo. Dengan isu arsitektural yang menjadi pertimbangan dalam mengatasi permasalahan mengenai fasilitas
rehabilitasi yang memadai dengan tata ruang yang sesuai, desain fungsional yang tepat sehingga dapat mendukung
kebutuhan pasien pecandu narkoba dalam proses penyembuhannya dengan dibantu oleh lingkungan yang sesuai dan
metode yang sesuai.
Proses detoksifikasi (medis) menjadi tahapan yang pertama dalam proses rehabilitasi pelaku pengguna narkoba.
Selanjutnya, dilakukan proses non-medis yaitu pasien menjalani program agama yang ada di tempat tersebut dengan
metode inabah. Yang terakhir adalah proses pembinaan lanjutan, proses ini sebagai tahapan akhir dari pasien pecandu.
Dalam rehabilitasi narkoba apabila hanya terfokus pada pengobatan medis saja, tingkat kekambuhan yang terjadi lebih
dari 40%. Maka untuk menurunkan tingkat kekambuhan (relapse) dibutuhkan perancangan rehabilitasi terpadu
(medis-non medis-pembinaan lanjut berada dalam 1 tempat), sehingga pasian akan terpulihkan secara kondisi fisik,
psikologis, sosial, maupun spiritualnya sekaligus.
Perancangan menggunakan 4 aspek berupa alam, panca indra, psikologis, dan sosiologis dengan tema rancangan yaitu
Islamic Healing Environment. Pendekatan ini sebagai upaya untuk mempercepat proses pemulihan serta memberikan
kenyamanan kepada korban penyalahgunaan narkotika. Pada perancangan ini, program non-medis yang digunakan
fokus pada metode keagamaan islam berupa metode inabah. Pelaksanaan metode tersebut disebut empat metode
khusus karena terdapat empat kegiatan wajib berupa melaksanakan mandi taubat; shalat wajib berjamaah & shalat
sunnah; pelaksanaan puasa wajib & sunnah; serta melaksanakan zikir harian. Selanjutnya metode Inabah didukung
dengan upaya penerapan prinsip healing environment antara lain nourishing all the senses, healthy lighting, comfortable
shapes, connection to nature, changeable layout and social support, & accesible environment.
Collections
- Architecture [3987]
