Show simple item record

dc.contributor.authorSafitri, Arfi Wanda
dc.date.accessioned2024-09-09T04:38:05Z
dc.date.available2024-09-09T04:38:05Z
dc.date.issued2024
dc.identifier.uridspace.uii.ac.id/123456789/51746
dc.description.abstractLingkungan kampus menuntut mahasiswa untuk cepat beradaptasi dan merespons berbagai tekanan, persaingan, serta konflik. Setiap hari, mereka dihadapkan pada tantangan akademik dan sosial. Hal ini sering menyebabkan mahasiswa mengalami duck syndrome, yakni kondisi di mana seseorang tampak baik-baik saja di luar, tetapi sebenarnya sedang berusaha keras mengatasi berbagai masalah yang dihadapinya. Istilah ini berasal dari analogi bebek yang terlihat anggun saat berenang di atas air, padahal kakinya di bawah permukaan air terus bergerak untuk menjaga keseimbangan tubuhnya agar tetap mengapung.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komunikasi asertif terhadap mahasiswa yang mengalami Duck Syndrome.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, dengan obeservasi dan wawancara mendalam terhadap 3 responden mahasiswa perguruan tinggi di Yogyakarta.Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa sering kali merasa cemas karena tekanan dari masalah-masalah yang dihadapi mereka. Upaya dalam mengatasi kecemasan dalam kondisi individu duck syndrome dapat memengaruhi penerapan komunikasi asertif. Mahasiswa laki-laki umumnya lebih efektif dalam menerapkan komunikasi asertif karena mereka lebih fokus pada pemikiran rasional, sementara mahasiswi cenderung lebih dipengaruhi oleh faktor emosional dalam komunikasien_US
dc.publisherUniversitas Islam Indonesiaen_US
dc.subjectDuck Syndromeen_US
dc.subjectKomunikasi Asertifen_US
dc.subjectKecemasan Mahasiswaen_US
dc.subjectUpaya Mengatasi Kecemasanen_US
dc.titleKomunikasi Asertif Pada Mahasiswa Duck Syndrome di Yogyakartaen_US
dc.typeThesisen_US
dc.Identifier.NIM20320356


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record