Komunikasi Asertif Pada Mahasiswa Duck Syndrome di Yogyakarta
Abstract
Lingkungan kampus menuntut mahasiswa untuk cepat beradaptasi dan merespons
berbagai tekanan, persaingan, serta konflik. Setiap hari, mereka dihadapkan pada tantangan
akademik dan sosial. Hal ini sering menyebabkan mahasiswa mengalami duck syndrome, yakni kondisi di mana seseorang tampak baik-baik saja di luar, tetapi sebenarnya sedang
berusaha keras mengatasi berbagai masalah yang dihadapinya. Istilah ini berasal dari analogi
bebek yang terlihat anggun saat berenang di atas air, padahal kakinya di bawah permukaan
air terus bergerak untuk menjaga keseimbangan tubuhnya agar tetap mengapung.Penelitian
ini bertujuan untuk mengetahui komunikasi asertif terhadap mahasiswa yang mengalami
Duck Syndrome.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, dengan obeservasi dan wawancara mendalam terhadap 3 responden mahasiswa perguruan
tinggi di Yogyakarta.Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa sering kali merasa
cemas karena tekanan dari masalah-masalah yang dihadapi mereka. Upaya dalam mengatasi
kecemasan dalam kondisi individu duck syndrome dapat memengaruhi penerapan
komunikasi asertif. Mahasiswa laki-laki umumnya lebih efektif dalam menerapkan
komunikasi asertif karena mereka lebih fokus pada pemikiran rasional, sementara mahasiswi
cenderung lebih dipengaruhi oleh faktor emosional dalam komunikasi
Collections
- Psychology [2579]
