Analisis Beban Kerja Operator Sebagai Acuan untuk mengetahui Jumlah Pekerja yang Sesuai di Bagian Kargo dan Logistik (Studi Kasus: PT. Angkasa Pura Logistik, Yogyakarta Internasional Airport)
Abstract
PT. Angkasa Pura Logistik (APLog) merupakan sebuah anak usaha dari PT. Angkasa Pura
1 yang bergerak dalam bidang logistik, yang terkhusus di sektor penerbangan. Beban kerja
operator menjadi faktor penting dalam kinerja dan kualitas dari layanan APLog di YIA.
Peningkatan jumlah volume kargo menjadi salah satu faktor dalam meningkatnya beban
kerja pada operator. Beban kerja yang tinggi ataupun rendah dapat berdampak negatif bagi
operator maupun perusahaan.Berdasarkan permasalahan tersebut, peneliti menggunakan
dua metode, yaitu the National Aeronautic and Space Administration Task Load Index
(NASA-TLX) dan Full Time Equivalent (FTE). Metode NASA-TLX merupakan sebuah
metode pengukuran beban kerja mental dengan mempertimbangkan 6 dimensi pengukuran
beban kerja mental, sedangkan metode FTE merupakan metode perhitungan beban kerja
yang berbasiskan waktu dengan mengukur lama waktu penyelesaian pekerjaan.Hasil
perhitungan beban kerja mental yang telah dilakukan dengan menggunakan metode
NASA-TLX dapat disimpulkan bahwa terdapat 19 pekerja dalam kategori sangat tinggi, 7
pekerja dalam kategor tinggi, dan 1 pekerja dalam kategori agak tinggi. Sedangkan, hasil
dari perhitungan dengan metode FTE didapatkan bahwa 18 pekerja masuk kedalam
kategori Overload, 8 pekerja masuk kedalam kategori normal, dan 1 pekerja masuk
kedalam kategori Underload.Perlu adanya penambahan jumlah pekerja dan pemerataan
jobdesc pekerja, agar dapat mengurangi beban kerja operator yang mengalami Overload.
Jika hasil beban kerja waktu sudah normal, namun hasil beban kerja mental masih tinggi
perlu adanya perbaikan dengan pemberian penghargaan ekstrinsik maupun intrinsik.
Collections
- Industrial Engineering [2835]
