Usulan Kerangka Kerja Manajemen Risiko Operasional dengan mempertimbangkan Hubungan Antara Penyebab Risiko Prioritas: Studi Kasus di Pawon Ayu
Abstract
Risiko operasional melekat dalam setiap aktivitas bisnis, termasuk di UKM. Oleh
karena itu, UKM perlu menerapkan manajemen risiko guna memastikan
kelangsungan bisnisnya. Pawon Ayu, salah satu UKM yang mengolah daging
bebek dan ayam ungkep siap saji dalam kemasan beku, menghadapi sejumlah risiko
operasional seperti kesulitan memenuhi permintaan pelanggan, bahan baku yang
tidak sesuai standar, pemesanan bahan baku mendadak, proses pencucian daging
bebek dan ayam yang tidak memenuhi standar, kerusakan produk sebelum dikemas,
dan kerusakan mesin produksi. Oleh karena itu, diperlukan manajemen risiko yang
efektif untuk mengatasi potensi risiko tersebut.
Penelitian ini bertujuan menyediakan kerangka kerja manajemen risiko
operasional untuk Pawon Ayu, guna menganalisis risiko operasional dalam proses
bisnisnya dan mengembangkan strategi mitigasi risiko proaktif. Kerangka kerja ini
kemudian diimplementasikan melalui serangkaian langkah, meliputi pemetaan
aktivitas operasional, identifikasi risk event dan risk agent, analisis, evaluasi, dan
pengembangan preventive action terhadap risk agent prioritas yang diidentifikasi,
dengan memahami hubungan antara risk agent prioritas tersebut. House of Risk
(HOR), Interpretive Structural Modeling (ISM) dan Analytic Network Process
(ANP) digunakan sebagai metode analisisnya.
Hasil penelitian ini menyajikan kerangka kerja manajemen risiko operasional
yang diusulkan untuk Pawon Ayu, dan preventive action yang diprioritaskan,
meliputi integrasi pelatihan, pendampingan, dan pembinaan dari pimpinan atau
karyawan yang berpengalaman ke dalam aktivitas operasional sehari-hari;
pengembangan sistem penghargaan dan sanksi untuk karyawan; pembentukan tim
perencanaan produksi dan pengendalian bahan baku; penyusunan jadwal kerja
karyawan yang seimbang; menjalin kemitraan jangka panjang yang dapat
disesuaikan dengan pemasok; menyediakan area khusus untuk penyimpanan bahan
baku gula dan garam; dan penerapan sistem first in first out (FIFO).
