Show simple item record

dc.contributor.authorRizqi, Jhody Asharie
dc.contributor.authorAnggraini, Yanti
dc.date.accessioned2024-08-26T06:19:57Z
dc.date.available2024-08-26T06:19:57Z
dc.date.issued2024
dc.identifier.uridspace.uii.ac.id/123456789/51374
dc.description.abstractBioetanol merupakan salah satu sumber energi terbarukan yang dapat ditemukan secara alami. Penggunaan energi ini mengurangi ketergantungan pada energi bahan bakar minyak sehingga menjadi solusi yang relevan untuk aspek ramah lingkungan serta pembangunan berkelanjutan. Bioetanol terbuat dari bahan berselulosa yang dilakukan proses fermentasi.Produksi bioetanol bergantung pada limbah pertanian, mempertinmbangkan potensi besar Indonesia dengan sumber daya alam yang melimpah. Tanaman berselulosa ini dapat ditemukan di limbah pertanian yang biasa dianggap sisa. Indonesia merupakan salah satu produsen kopi terbesar di dunia, menurut laporan BPS 2022 produksi kopi mencapai 794,8 ribu ton dengan terus meningkat setiap tahun. Namun, biji kopilah yang menjadi utama dalam penjualan sedangkan kulit kopi hanya menjadi limbah pertanian yang dianggap remeh. Kulit kopi memiliki kandungan serat 49% selulosa, 24,5% hemiselulosa dan 7,63% lignin dimana bisa dimanfaatkan sebagai bahan utama dalam produksi bietanol. Atas dasar ini dibuat pra rancangan pabrik bioetanol berbahan dasar kulit kopi dengan kapasitas 30.000 ton/tahun. Pabrik ini dimuat menggunakan limbah kulit kopi dari perkebunan di Sumatera Selatan, karena produksi kopi di Sumatera Selatan pada tahun 2022 mencapai 212.400 ton/tahun dimana sekitar 50-60% kulit kopi dari satu buah kopi dan menjadi limbah pertanian saja. Parbrik ini direncanakan akan didirikan di Kota Palembang ditinjau dari berbagai faktornya. Tanaman kopi juga merupakan tanaman yang bisa tumbuh di semua musim, maka pabrik ini akan berproses selama 330 hari dalam 1 tahun. Proses yang dilakukan untuk mendapatkan bioetanol dari kulit kopi dilakukan proses hidrolisis menggunakan katalis asam klorida dan fermentasi menggunakan Saccharomyces cerevisae sebagai khamir dalam proses fermentasi. Setelah melewati berbagai proses didapatkan kemurnian bioetanol 97,5%. Sebagai penunjang berjalannya pabrik ini, digunakan air sebesar 756.292,68 kg/jam yang besrsumber dari sungai Musi dan kebutuhan listrik 1.165,58 kW dengan pengadaan dari generator berbahan solar. Parameter kelayakan pabrik menggunakan analisis ekonomi dengan modal total investasi yang terdiri dari Penanaman Modal Tetap sebesar Rp503.654.388.238 dan Modal Kerja Rp1.405.243.392.655. Total Biaya Produksi Rp7.292.662.494.944 dan Penjulanan Tahunan Rp8.400.000.000.000 sehingga dapat keuntungan sebelum pajak Rp1.107.337.505.056 dan keuntungan setelah pajak Rp775.136.253.539. Analisa kelayakan dilihat dari nilai Return On Investment (ROI) setelah pajak 15%, Pay Out Time (POT) sebelum pajak 3,33 tahun, Pay Out Time (POT) sesudah pajak 4,28 tahun, Discounted Cash Flow Rate of Return (DCFRR) 30% Break Event Point (BEP) 50% dan Shut Down Point (SDP) 28%. Dari parameter tersebut dapat disimpulkan pabrik bioetanol dari kulit kopi ini layak untuk didirikan.en_US
dc.publisherUniversitas Islam Indonesiaen_US
dc.subjectBioetanolen_US
dc.subjectKulit Kopien_US
dc.subjectHidrolisisen_US
dc.subjectFermentasien_US
dc.subjectSacchromyces Cerevisaeen_US
dc.titleBioetanol dari Limbah Kulit Kopi Kapasitas 30.000 Ton/tahunen_US
dc.typeThesisen_US
dc.Identifier.NIM20521167
dc.Identifier.NIM20521178


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record