Strategi Pengembangan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Berbasis Kesiapan Sertifikasi Halal dengan mengidentifikasi Karakteristik Pelaku UMKM menggunakan K-Means Clustering
Abstract
Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memainkan peran penting dalam
perekonomian Indonesia, namun menghadapi tantangan signifikan dalam akses pasar,
modal, teknologi, serta sertifikasi halal. Sertifikasi halal penting untuk memenuhi
permintaan konsumen Muslim dan meningkatkan daya saing di pasar global. Pemerintah
Indonesia telah mengimplementasikan UU No. 33 Tahun 2014 yang mewajibkan UMKM
bersertifikat halal pada tahun 2024. Namun, kurangnya kesadaran dan keterbatasan
sumber daya menjadi hambatan utama bagi UMKM. Penelitian ini menggunakan metode
K-Means Clustering untuk mengidentifikasi pola karakteristik UMKM terkait kesiapan
mereka dalam memperoleh sertifikasi halal. Adapun variabel yang digunakan pada
penelitian ini untuk mengetahui karakteristik masing-masing clusternya terdapat
demografi, pengetahuan, kesadaran, sikap, dan kemampuan teknologi dalam membantu
UMKM mengadopsi sertifikasi halal. Kemudian dari kuesioner yang telah disebar kepada
UMKM yang berada di kawasan Yogyakarta diperoleh data sebanyak 106 data dan
dihasilkan proporsi cluster yang terbentuk adalah cluster 1 sebanyak 10%, cluster 2
sebanyak 28%, cluster 3 sebanyak 39%, dan cluster 4 sebanyak 23%. Hasil dari penelitian
ini didapatkan cluster 1 hingga 4 berturut-turut memiliki karakteristik yaitu Indifferent
Bystanders, Proactive Adopters, Curious Learners, dan Passive Aware. Kemudian
strategi pengembangan UMKM berbasis sertifikasi halal berdasarkan karakteristik
masing-masing cluster yaitu, Cluster 1 (Indifferent Bystanders) memerlukan edukasi
dasar, insentif finansial, dan pendampingan langsung. Cluster 2 (Proactive Adopters)
butuh pelatihan lanjutan, kampanye publik, program penghargaan, dan pelatihan
teknologi. Cluster 3 (Curious Learners) membutuhkan informasi terstruktur, pelatihan,
pendampingan, mentorship, dan platform kolaborasi online. Cluster 4 (Passive Aware)
memerlukan sosialisasi intensif, pelatihan dasar, pendampingan, insentif biaya, dan
teknologi dasar.
Collections
- Industrial Engineering [2835]
