| dc.description.abstract | Pendidikan inklusi dalam konteks pendidikan agama Islam dapat dilihat
sebagai implementasi nilai-nilai agama Islam yang mendorong perhatian terhadap
keberagaman dan perlindungan hak-hak individu terlebih lagi di Bali memiliki
toleransi yang kuat antar umat beragama karena mayoritas agama di sana adalah
Hindu. Guru pendidikan agama Islam memiliki peran yang penting dalam
memastikan bahwa siswa kebutuhan khusus juga dapat mengakses dan memahami
pelajaran agama Islam di MTs Generasi Emas Denpasar Bali.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif, dengan fokus
penelitian peran guru pendidikan agama Islam dalam melaksanakan pendidikan
inklusi di MTs Generasi Emas Denpasar Bali. Penentuan informan, peneliti
menggunakan teknik purposive sampling, adapun informan terpilih yaitu: kepala
madrasah, guru, dan dan peserta didik MTs Generasi Emas Denpasar. Ketika
pengumpulan data, peneliti menggunakan 3 teknik dalam setiap tahapannya yaitu
observasi, wawancara, dan dokumentasi. Keabsahan data peneliti menggunakan
teknik triangulasi data. adapun pada analisis data dengan model Mattew B. Miles
dan A Michel Huberman yaitu reduksi, display, dan verifikasi.
Hasil penelitian menujukan bahwa guru pendidikan agama Islam memiliki
peran mendalam dalam melaksanakan pendidikan inklusi di MTs Generasi Emas
Bali, diantara peran tersebut meliputi: 1) Peran guru sebagai fasilitator; 2) Peran
guru sebagai motivator; 3) Peran guru sebagai inisiator; 4) Peran guru sebagai
Pengelola Kelas; 5) Peran guru sebagai Pembimbing/Mentor; 6) Peran guru
sebagai evaluator. 2. Adapun faktor pendukung guru pendidikan agama Islam
dalam melaksanakan pendidikan inklusi di MTs Generasi Emas Bali
Melaksanakan Pendidikan Inklusi yaitu: 1) Dukungan orang tua; 2)
Pengembangan guru melalui pelatihan; 3) Menyusun kurikulum atau
menyelenggarakan pendidikan inklusi. Adapun faktor penghambat guru
pendidikan agama Islam dalam melaksanakan pendidikan inklusi di MTs Generasi
Emas Bali yaitu: 1) Kondisi siswa yang kurang stabil; 2) Kondisi anak yang sulit
dipahami; 3) Fasilitas yang belum memadai. | en_US |