Show simple item record

dc.contributor.authorRini, Sekar Setyo
dc.date.accessioned2024-05-08T04:21:07Z
dc.date.available2024-05-08T04:21:07Z
dc.date.issued2024
dc.identifier.uridspace.uii.ac.id/123456789/49009
dc.description.abstractPenelitian ini menganalisis tentang anti-Taliban yang direpresentasikan dalam film- film Hollywood dengan menggunakan empat sampel judul film yaitu War Machine (2017), 12 Strong (2018), Kandahar (2023), dan The Covenant (2023) dengan menggunakan analisis teori komunikasi politik Harold D. Lasswell (Who, Says What, In Which Channel, To Whom, dan With What Effect). Peristiwa runtuhnya menara Kembar World Trade Center 11 September 2001, membuat semua terfokus pada aksi terorisme yang membuat hubungan antara Taliban dan Amerika Serikat mengalami ketegangan karena Taliban memilih untuk melindungi pelaku dari serangan tersebut yaitu Osama bin Laden sehingga rezim Taliban pada masa itu berhasil digulingkan. Pasca peristiwa tersebut beberapa film mengangkat peristiwa serupa dengan latar yang beraneka ragam. Penelitian ini menunjukan bahwa dalam film-film Hollywood terdapat representasi negatif terhadap Taliban. Taliban dilabelkan sebagai kelompok teroris yang kejam dan tidak memperdulikan adanya Hak Asasi Manusia. Hasil analisis dalam penelitian ini bahwa Amerika Serikat memanfaatkan industri Hollywood untuk menyebarkan pesan propaganda melalui film-filmnya seperti War Machine (2017), 12 Strong (2018), Kandahar (2023), dan The Covenant (2023) dengan cara merepresentasikan Taliban sebagai baddies (orang jahat) sedangkan Amerika Serikat sebagai goodies (orang baik) untuk menunjukkan kepada dunia siapa Amerika Serikat sebenarnya.en_US
dc.publisherUniversitas Islam Indonesiaen_US
dc.subjectFilmen_US
dc.subjectPropagandaen_US
dc.subjectTalibanen_US
dc.subjectTerorismeen_US
dc.titlePropaganda Anti-taliban Amerika Serikat melalui Film Hollywood 2017-2023en_US
dc.typeThesisen_US
dc.Identifier.NIM20323012


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record