Show simple item record

dc.contributor.authorPangestu, Muhamad Ridho
dc.date.accessioned2024-01-12T06:17:08Z
dc.date.available2024-01-12T06:17:08Z
dc.date.issued2023
dc.identifier.uridspace.uii.ac.id/123456789/46499
dc.description.abstractHubungan kerja sama antara Indonesia dan Tiongkok dalam sektor ekonomi khususnya dalam skema ACFTA sudah berjalan cukup lama, melalui hal tersebut kedua negara bisa dikatakan sebagai sebuah mitra dagang aktif namun dilema yang terjadi adalah kondisi Indonesia yang mengalami defisit neraca perdagangan dengan Tiongkok, dengan kondisi tersebut pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo Indonesia malah melakukan peningkatan kerja sama dengan Tiongkok. Hal tersebut namun dapat ditangguhkan dengan Teori John Ravenhill yang menjelaskan faktor regionalisme sebagai tolak ukur pengambilan kebijakan ekonomi khususnya untuk strategi politik sebuah negara dalam menerapkan sebuah kebijakan ekonomi. Skema ACFTA menjadi salah satu jembatan bagi kedua negara baik dalam hal kebijakan, perdagangan, dan investasi, peningkatan yang terjadi merupakan bentuk strategi Indonesia dalam menyikapi perkembangan zaman khususnya pada sektor pertumbuhan negara dan mengambil dampak kemudahan akses berkat regionalisme antara Indonesia dan Tiongkok.en_US
dc.publisherUniversitas Islam Indonesiaen_US
dc.subjectACFTAen_US
dc.subjectEkonomien_US
dc.subjectKerja Samaen_US
dc.subjectIndonesiaen_US
dc.subjectRegionalismeen_US
dc.subjectTiongkoken_US
dc.titlePolitik Perdagangan Indonesia dalam Konteks Implementasi Asean China Free Trade Area (Acfta) Tahun 2015-2020en_US
dc.typeThesisen_US
dc.Identifier.NIM19323143


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record