• Login
    View Item 
    •   DSpace Home
    • Students & Alumnae
    • Thesis
    • Master of Islamic Studies
    • View Item
    •   DSpace Home
    • Students & Alumnae
    • Thesis
    • Master of Islamic Studies
    • View Item
    JavaScript is disabled for your browser. Some features of this site may not work without it.

    Konsep Unifikasi Kalender Hijriah Global Perspektif Muhammadiyah Dan Nahdatul Ulama Di Kota Sorong Papua Barat

    Thumbnail
    View/Open
    21913009.pdf (4.720Mb)
    Date
    2023-04
    Author
    MUHAMMAD ARAFAT
    Metadata
    Show full item record
    Abstract
    Polemik dalam perbedaan penentuan awal bulan di wilayah Kota Sorong, Papua Barat, tidak hanya sebatas perbedaan dalam melaksanakan ibadah Idul Fitri dan Idul Adha saja, akan tetapi polemik yang paling menonjol yaitu munculnya sikap inkonsistensi masyarakat Muslim dalam melaksanakan puasa dan hari raya, yang mana pada satu waktu mengikuti pemerintah di waktu lain berlawanan dengan pemerintah. Dari hal tersebut, maka penulis tertarik melakukan penelitian dengan objek penelitian adalah Konsep Unifikasi Kalender Hijriah Global Perspektif Muhammadiyah Dan Nahdatul Ulama Di Kota Sorong Papua Barat. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan HistorisNormatif-Sosiologis. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu dokumentasi dan wawancara sedangkan Teknik analisis data yang digunakan oleh penulis adalah teknik analisis data kualitatif yang terdiri dari pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, verifikasi dan penarikan kesimpulan. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh penulis yaitu untuk menjawab, Pertama urgensi unifikasi kalender hijriah di Kota Sorong yang menunjukkan bahwa penerapan kalender hijriah unifikatif di Kota Sorong adalah untuk menyatukan umat Islam yang hampir selalu terpecah pada saat akan memulai bulan baru dan juga Kalender Hijriyah Unifikatif dapat digunakan untuk urusan muamalah, di antaranya yang paling penting yaitu perhitungan 1 tahun (haul). Jika mengeluarkan zakat menggunakan kalender masehi maka ada selisih 11.5 hari dengan kalender hijriyah. Kedua mengenai respon terhadap Unifikasi kalender hijriah dengan menggunakan pendekatan Normatif, Historis, dan Sosiologis diketahui bahwa yang menjadi landasan Muhammadiyah di wilayah Kota Sorong menganjurkan perumusan kalender hijriah unifikatif yaitu Q.S.Ar-Rahman ayat 5 dan Q.S.Yunus ayat 5. Tokoh Muhammadiyah di kota Sorong sangat menganjurkan adanya perumusan kalender hijriah unifikatif mengingat umat Muslim hingga saat ini belum memiliki kalender hijriah yang bersifat unifikatif dan polemik yang sering terjadi saat menentukan hari-hari besar umat Islam, akan tetapi dari pusat Muhammadiyah belum mengeluarkan statement secara resmi mengenai kalender hijriah unifikatif. Adapun yang menjadi landasan Nahdatul Ulama menolak kalender unifikatif yaitu berdasarkan hadis Rasulullah yang mengatakan “berpuasalah kalian dengan melihat hilal” sehingga menurut mereka tidak mungkin untuk membuat kalender hijriah unifikatif. Para tokoh Nahdatul Ulama di Kota Sorong cenderung pasif menanggapi kalender hijriah unifikatif, sebab menurut mereka sulit untuk menyatukan umat Muslim seluruh dunia dalam satu tanggal yang sama mengingat rentang waktu dan kondisi geografis yang sangat berbeda. Tidak hanya itu saja Nahdatul Ulama di Wilayah Kota Sorong memiliki prinsip yang sama dengan Nahdatul Ulama Pusat.
    URI
    https://dspace.uii.ac.id/handle/123456789/44963
    Collections
    • Master of Islamic Studies [1769]

    DSpace software copyright © 2002-2015  DuraSpace
    Contact Us | Send Feedback
    Theme by 
    @mire NV
     

     

    Browse

    All of DSpaceCommunities & CollectionsBy Issue DateAuthorsTitlesSubjectsThis CollectionBy Issue DateAuthorsTitlesSubjects

    My Account

    LoginRegister

    DSpace software copyright © 2002-2015  DuraSpace
    Contact Us | Send Feedback
    Theme by 
    @mire NV