Show simple item record

dc.contributor.authorMAGALIASIH PASORONG RANDA
dc.date.accessioned2023-04-05T02:08:34Z
dc.date.available2023-04-05T02:08:34Z
dc.date.issued2023-01-24
dc.identifier.urihttps://dspace.uii.ac.id/handle/123456789/43085
dc.description.abstractGempa bumi merupakan salah satu bahaya yang sering membawa bencana korban jiwa dan harta benda. Hal ini tidak terlepas dari kondisi posisi geografis Indonesia yang terletak di antara dua lempeng tektonik besar dunia yaitu Eurasia dan Indo-Australia. Untuk itu masyarakat perlu kesiapsiagaan menghadapi kejadian gempa bumi di masa datang, termasuk aparat pemerintah yang bertugas di Kompleks Balaikota Yogyakarta. Penelitian ini fokus pada kesiapsiagaan masyarakat dan kerentanan bangunan gedung terhadap bahaya gempa bumi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengukur tingkat kesiapsiagaan aparat pemerintah dan mengevaluasi struktur bangunan sederhana dan bertingkat dengan metode rapid visual screening di Kompleks Balaikota Yogyakarta terhadap bahaya gempa bumi. Metodologi penelitian untuk mengukur kesiapsiagaan adalah dengan kuesioner yang mengacu pada lima parameter kesiapsiagaan yang dikembangkan oleh LIPI. Pengambilan sampel dari populasi aparat sipil negara yang bertugas di Kompleks Balaikota Yogyakarta dilakukan dengan purposive sampling. Sedangkan untuk mengevaluasi struktur bangunan gedung digunakan dua metode yaitu metode ACeBS yang dikembangkan oleh BNPB bekerjasama Museum Gempa Prof. Dr. Sarwidi dan metode FEMA P-154. Struktur gedung yang dievaluasi terdiri dari dua gedung kantor 1 lantai tipikal tembokan dan dua gedung bertingkat tipe rangka beton bertulang dengan dinding bata tanpa perkuatan. Analisis dilakukan dengan perhitungan statistik untuk memperoleh Indeks Kesiapsiagaan Pemerintah yang diwakili responden pejabat struktural dan Indeks Kesiapsiagaan Aparat Pemerintah yang diwakili responden pejabat fungsional dan staf. Indeks gabungan yang merupakan Indeks Kesiapsiagaan Kompleks Balaikota Yogyakarta diperoleh dengan menjumlahkan seluruh indeks sesuai dengan bobot masing-masing. Untuk evaluasi struktur bangunan gedung, dilakukan pengumpulan data melalui observasi lapangan dan reviu dokumen gedung. Selanjutnya data observasi digunakan untuk mengisi aplikasi ACeBS atau formulir FEMA P-154. Analisis data responden kesiapsiagaan memberikan hasil berupa Indeks Pemerintah dengan nilai 32,495 (kategori belum siap), Indeks Aparat Pemerintah dengan nilai 62,92 (kategori hampir siap), dan Indeks Kompleks Balaikota Yogyakarta dengan nilai 40,792 (kategori kurang siap). Hasil evaluasi bangunan gedung 1 lantai dengan metode AceBS, diperoleh skor 158 pada kedua gedung yang berarti kerentanan rendah. Hasil evaluasi bangunan gedung bertingkat dengan metode ACeBS dan FEMA P-154 diperoleh bahwa bangunan gedung yang dievaluasi tingkat kerentanannya adalah sangat rentan dan dibutuhkan evaluasi struktur lanjutan secara detail.en_US
dc.publisherUNIVERSITAS ISLAM INDONESIAen_US
dc.titleEvaluasi Kesiapsiagaan Aparat Pemerintah Di Kompleks Balaikota Yogyakarta Menghadapi Bahaya Gempa Bumien_US
dc.Identifier.NIM18914051


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record