• Login
    View Item 
    •   DSpace Home
    • Lecturers And Researchers
    • Faculty of Civil Engineering and Planning
    • Department of Architecture
    • SAKAPARI (Seminar Karya & Pameran Arsitektur Indonesia)
    • SAKAPARI 2016 #SERIES 1
    • View Item
    •   DSpace Home
    • Lecturers And Researchers
    • Faculty of Civil Engineering and Planning
    • Department of Architecture
    • SAKAPARI (Seminar Karya & Pameran Arsitektur Indonesia)
    • SAKAPARI 2016 #SERIES 1
    • View Item
    JavaScript is disabled for your browser. Some features of this site may not work without it.

    MULTIKULTURALISME ARSITEKTUR DALAM PERSPEKTIF TEORI ASSEMBLAGE

    Thumbnail
    View/Open
    PROSIDING SAKAPARI 1_40.pdf (891.2Kb)
    Date
    2016-07-23
    Author
    Raharjo, Wiryono
    Metadata
    Show full item record
    Abstract
    Indonesia memiliki garis pantai 99,000 km - terpanjang di dunia setelah Kanada. Di sepanjang pantai itu berdiri kota-kota yang menjadi titik awal masuknya berbagai pengaruh budaya luar sejak ratusan tahun yang lalu. Di Jawa, selain kota-kota besar seperti Jakarta, Semarang dan Surabaya; Cirebon menjadi titik masuk penting pengaruh budaya luar, yang membentuk citra kota maritim tersebut sebagai kota hibrida dari aspek budaya. Ada warga Cina yang telah bermukim di Cirebon dan pantai utara Jawa (Pantura) sebelum kehadiran VOC, bahkan selain etnis Cina, Cirebon pada masa itu telah dihuni etnis India, Parsi, Siria, Arab, Sunda, Jawa, dan Sumatra, yang membuat karakter Cirebon makin multikultural (Solikhah, 2015). Ko-eksistensi beragam budaya tersebut juga dialami Bali sejak ratusan tahun silam. Sebagaimana ditulis oleh Pigeaud dalam Nordholt (1992), kerajaan Majapahit telah melakukan invasi pada tahun 1343. Pada abad 17, pengaruh VOC di wilayah pesisir utara juga mulai terlihat. Namun catatan VOC menunjukkan bahwa Cina, Muslim, dan bahkan Spanyol serta Portugis telah hadir di Bali sebelum kedatangan VOC itu sendiri (Vickers, 1987). Semua peristiwa tersebut tentu berpengaruh terhadap eksistensi arsitektur di kawasan tersebut. Selain itu dalam perkembangannya, kehadiran globalisasi arsitektur di era modern - yang di klaim Hardy (2003) sebagai “nir-budaya” (cultureless) - tentu ikut memberikan kontribusi signifikan terhadap dinamika perubahan lansekap arsitektur di kota-kota tersebut. Pertanyaan yang akan direspon oleh makalah ini adalah, bagaimana menjelaskan hubungan antara fenomena multikulturalisme tersebut dengan produksi arsitektur? Dimana posisi arsitek dalam konstelasi multikulturalisme tersebut? Penulis mencoba untuk menelaah fenomena tersebut menggunakan teori assemblage. Teori ini merupakan intepretasi kritis yang dilakukan oleh DeLanda (2007) dan beberapa cendekiawan lain (misalnya Dovey, 2010; Anderson et al, 2012) terhadap teori assemblage karya Deleuze dan Guattari (1987), yang secara khusus diarahkan untuk memahami kompleksitas hubungan sosial masyarakat dengan ruang kehidupannya.
    URI
    http://hdl.handle.net/123456789/43081
    Collections
    • SAKAPARI 2016 #SERIES 1 [40]

    DSpace software copyright © 2002-2015  DuraSpace
    Contact Us | Send Feedback
    Theme by 
    @mire NV
     

     

    Browse

    All of DSpaceCommunities & CollectionsBy Issue DateAuthorsTitlesSubjectsThis CollectionBy Issue DateAuthorsTitlesSubjects

    My Account

    LoginRegister

    DSpace software copyright © 2002-2015  DuraSpace
    Contact Us | Send Feedback
    Theme by 
    @mire NV