• Login
    View Item 
    •   DSpace Home
    • Students & Alumnae
    • Undergraduate Thesis
    • Faculty of Islamic Studies
    • Islamic Law
    • View Item
    •   DSpace Home
    • Students & Alumnae
    • Undergraduate Thesis
    • Faculty of Islamic Studies
    • Islamic Law
    • View Item
    JavaScript is disabled for your browser. Some features of this site may not work without it.

    Revitalisasi Teori Limit (Batas) Muhammad Syahrur Tentang Fiqih Ta’addudu al-Zaujat (Poligami)

    Thumbnail
    View/Open
    08421009 M. Husnul.pdf (217.6Kb)
    Bab I - Bab V.pdf (637.7Kb)
    Date
    2012
    Author
    M. Husnul
    Metadata
    Show full item record
    Abstract
    Revitalisasi Teori Limit (Batas) Muhammad Syahrur Tentang Fiqih Ta’addudu al-Zaujat (Poligami) Muhammad Husnul Poligami sampai hari ini masih saja menjadi primadona polemik dalam khazanah pemikiran Islam. Antara ia (poligami) masih dianggap relevan untuk diterapkan atau tidak, untuk tingkat zaman seperti sekarang ini, karena memang selain mendatangkan polemik, poligami juga berbenturan dengan perspektif-perspektif umum yang sekarang ini sedang marak diperbincangkan, yaitu HAM, gender, dan lain sebagainya. Diantara banyak perdabatan yang banyak itu, muncullah salah seorang sosok inspiratif bagi pemikir Islam modern. Ia Muhammad Syahrur. Dengan jargonnya Limit Theory (teori limit) yang lazim dikenal dengan sebutan nazhariyah hududiyyah atau nazhariyatul hudud. Menurut Muhammad Syahrur, poligami (al-Nisa’[4]: 3) harus dilihat dengan multiperspektif; keterkaitan ayat dengan ayat sebelum dan sesudahnya, perspektif linguistik (kebahasaan), perspektif logika, dan perspektif-perspektif lain yang mendukung. Selain melihat poligami dengan perspektif yang banyak, pada tatanan implementasinya juga harus diperhatikan sesuai dengan kearifan lokal. Muhammad Syahrur berpendapat sebenarnya inti atau esensi mentah dari surat al-Nisa’[4]: 3, adalah pemeliharaan anak yatim. Berkaitan dengan poligami, itu adalah cara untuk memelihara anak yatim, yaitu dengan mengawini ibu (janda) anak yatim tersebut. Pada akhirnya Muhammad Syahrur menyarankan laki-laki untuk berpoligami dengan tujuan memelihara anak yatim yang ibunya dalam keadaan kurang mampu menghidupnya. Saran untuk berpoligami tentu harus dilakukan dengan syarat-syarat yang telah dijelaskan Muhammad Syahrur. Dan tentunya syarat-syarat itu harus terpenuhi. Meskipun poligami itu diperbolehkan, Ia berpendapat poligami juga harus disesuaikan dengan kearifan lokal, yang tujuannya agar tidak ada benturan-benturan yang merusak kemaslahatan. Keywords: Poligami, al-Nisa’[4]: 3, dan Anak Yatim
    URI
    https://dspace.uii.ac.id/handle/123456789/37511
    Collections
    • Islamic Law [923]

    DSpace software copyright © 2002-2015  DuraSpace
    Contact Us | Send Feedback
    Theme by 
    @mire NV
     

     

    Browse

    All of DSpaceCommunities & CollectionsBy Issue DateAuthorsTitlesSubjectsThis CollectionBy Issue DateAuthorsTitlesSubjects

    My Account

    LoginRegister

    DSpace software copyright © 2002-2015  DuraSpace
    Contact Us | Send Feedback
    Theme by 
    @mire NV