Investigasi terhadap Manajemen Risiko Bencana di Daerah Istimewa Yogyakarta (Fokus Kasus: Penyebaran Sistem Peringatan Dini)
Abstract
Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang terdiri dari lima
kabupaten/kota tidak luput mengalami bencana dan telah memiliki sejarah
kebencanaan yang cukup panjang. Setiap daerah di DIY yang berupa
Kabupaten/Kota memiliki potensi bencana yang berbeda-beda. Pada penelitian ini
akan dilakukan Investigasi Terhadap Manajemen Risiko Bencana Di Daerah
Istimewa Yogyakarta secara lebih mendalam dengan fokus pada Penyebaran Sistem
Peringatan Dini.
Penelitian tentang sistem peringatan dini telah dilakukan oleh banyak
penelitian sebelumnya dilokasi dan kasus yang berbeda. Meski obyek penelitiannya
sama, namun morfologi dan karakteristik lokasi menyebabkan adanya perbedaan
pada tujuan, metode dan hasil di setiap penelitian.
Metode penelitian ini menggunakan purposive sampling berupa survey dan
wawancara dan kuesioner seta data statistic. Pemilihan informan dilakukan secara
purposive (memiliki kriteria inklusi) dan key person. Pengambilaan data,
wawancara dan kuesioner dilakukan di BPBD Kabupaten Kulonprogo, BPBD
Kabupaten GunungKidul, BPBD Kabupaten Bantul, BPBD Kabupaten Sleman,
BPBD Kota Yogyakarta, dan Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Daerah Istimewa
Yogyakarta. Wawancara dilakukan dengan menggunakan pedoman wawancara dan
kuesiner. Pedoman yang digunakan berdasarkan Peraturan Kepala BNPB No. 3
Tahun 2012 tentang Panduan Penilaian Kapasitas Daerah Dalam Penanggulangan
Bencana dengan modifikasi.
Secara keseluruhan berdasarkan penilaian dari setiap aspek, upaya
pengurangan risiko bencana di daerah istimewa yogyakarta telah mencapai 72%
untuk bencana tanah longsor, 49,6% untuk bencana letusan gunung api, 68,9%
untuk bencana banjir, 68,3% untuk bencana gempa bumi, serta 56,5% untuk
bencana tsunami. Selain itu, Daerah Istimewa Yogyakarta termasuk dalam daerah
dengan jenis sistem peringatan dini yang lengkap karena memiliki sistem
peringatan dini untuk 5 jenis bencana dari 7 jenis bencana yang paling sering terjadi
di Indonesia menurut data yang dimiliki DIBI Tahun 2016 atau sebesar 71,42%.
