• Login
    View Item 
    •   DSpace Home
    • Students & Alumnae
    • Undergraduate Thesis
    • Faculty of Law
    • Law
    • View Item
    •   DSpace Home
    • Students & Alumnae
    • Undergraduate Thesis
    • Faculty of Law
    • Law
    • View Item
    JavaScript is disabled for your browser. Some features of this site may not work without it.

    PROBLEMATIKA PENERAPAN AMNESTI OLEH PRESIDEN DI TINJAU DARI SUDUT HUKUM TATA NEGARA (Studi Kasus Pelaksanaan Amnesti Terhadap Baiq Nuril)

    Thumbnail
    View/Open
    01 cover.pdf (274.0Kb)
    02 preliminari.pdf (1.808Mb)
    03 daftar isi.pdf (474.2Kb)
    04 abstract.pdf (264.2Kb)
    05.1 bab 1.pdf (1.169Mb)
    05.2 bab 2.pdf (1.747Mb)
    05.3 bab 3.pdf (1.362Mb)
    05.4 bab 4.pdf (1.256Mb)
    05.5 bab 5.pdf (517.8Kb)
    06 daftar pustaka.pdf (758.9Kb)
    Date
    2019-11-12
    Author
    DENY SETIAWAN, 14410416
    Metadata
    Show full item record
    Abstract
    Presiden mempunyai hak prerogatif, hak ini hanya dimiliki oleh Presiden sebagai pemimpin negara Indonesia. Hak prerogatif yang dimiliki oleh Presiden Indonesia salah satunya adalah masalah pengampunan yaitu Grasi, Rehabilitasi, Amnesti dan Abolisi. Kekuasaan presiden ini hanya dimiliki oleh Presiden yang diatur dalam Pasal 14 Undang Undang Dasar 1945, namun dalampengaturannya tidak dijelaskan secara detail dan bagaimana cara melaksanakannya. Hal ini menjadi polemik yang kemudia terjadi dikasus Baiq Nuril yang mendapat Amnesti dari Presiden. Ada yang menyetujui dengan amnesti yang diberikan oleh Preside nada juga yang tidak menyetujui dengan Amnesti yang diberikan, Amnesti ini menjadi polemik dan juga menjadi perhatian masyarakat luas. Banyak masyarakat yang mendukung Baiq Nuril sehingga timbul petisi yang berada di sebuah laman yang isinya mendesak Presiden memberikan Amnesti kepada Baiq Nuril. Kemudian ada yang tidak setuju apabila Amnesti diberikan karena dilihat dari sejarah Amnesti pada Presiden sebelumnya Amnesti diberikan kepada kasus tahanan politik yang pada saat itu melawan pemerintahan. Kasus Baiq Nuril ini menjadi yang pertama mendapat Amnesti dari Presiden yang bukan dari kasus tahanan politik. Sebelum diamandemen Undang Undang Dasar1945 ini masih memberikan kekuasaan pada Pasal 14 ini memberikan kekuatan tunggal yaitu hanya Presiden yang memberikan Amnesti tanpa memperhatikan pertimbanganpertimbangan lembaga pemerintahan, namun setelah adanya amandemen Presiden dalam memberikan pengampunan masalah Grasi dan Rehabilitasi Presiden memperhatikan pertimbangan dari Mahkamah Agung, kemudian Amnesti dan Abolisi Presiden memperhatikan pertimbangan dari Dewan Perwakilan Rakyat. Dalam hal ini penulis memberikan saran membuat peraturan Pasal 14 Undang Undang Dasar 1945 khususnya pada Amnesti agar dibuat lebih secara detail seperti bagaimana kriteria yang dapat diberikan, juga bagaimana cara pelaksanaanya secara detail dan kemudian ditambah badan pertimbangan yang memberikan pertimbangan untuk Presiden agar mendapat masukan dan pemikiran yang luas.
    URI
    http://hdl.handle.net/123456789/19815
    Collections
    • Law [3447]

    DSpace software copyright © 2002-2015  DuraSpace
    Contact Us | Send Feedback
    Theme by 
    @mire NV
     

     

    Browse

    All of DSpaceCommunities & CollectionsBy Issue DateAuthorsTitlesSubjectsThis CollectionBy Issue DateAuthorsTitlesSubjects

    My Account

    LoginRegister

    DSpace software copyright © 2002-2015  DuraSpace
    Contact Us | Send Feedback
    Theme by 
    @mire NV