• Login
    View Item 
    •   DSpace Home
    • Students & Alumnae
    • Undergraduate Thesis
    • Faculty of Engineering Design Innovation
    • Professional Program of Architect (PPAr)
    • View Item
    •   DSpace Home
    • Students & Alumnae
    • Undergraduate Thesis
    • Faculty of Engineering Design Innovation
    • Professional Program of Architect (PPAr)
    • View Item
    JavaScript is disabled for your browser. Some features of this site may not work without it.

    PERANCANGAN FOOD COURT DI BANTARAN KALI LODJI, PEKALONGAN DENGAN PENDEKATAN EKOLOGI DESIGN IN FOOD COURT IN KALI LODJI RIVERBANK, PEKALONGAN WITH ECOLOGICAL APPROACH

    Thumbnail
    View/Open
    01. cover.jpg (31.97Kb)
    01. cover.pdf (31.97Kb)
    02. preliminari.pdf (770.4Kb)
    03. daftar isi.pdf (57.15Kb)
    04. abstract.pdf (220.3Kb)
    05.1 bab 1.pdf (816.4Kb)
    05.5 bab 5.pdf (412.9Kb)
    06. daftar pustaka.pdf (522.4Kb)
    Date
    2019-11-18
    Author
    Dian Balqis Ekapratiwi, 15512030
    Metadata
    Show full item record
    Abstract
    Batik telah menjadi komoditas utama di Pekalongan, setiap tahun diadakan Festival Batik International, dengan adanya acara tersebut menambah pendapatan kota karena banyaknya wisatawan domestik maupun manca negara. Pekalongan berkembang menjadi pusat batik terbesar di Jawa. Di kota Pekalongan batik tumbuh menjadi sebuah industri yang makin lama makin berorientasi komersial bukan lagi sekedar seni atau kriya. Batik Pekalongan dipengaruhi oleh ide-ide dan warna-warna dari luar negeri termasuk dari Eropa dan lebih bebas tidak terikat secara kuat dari pakem kraton. Pada tahun 1950, sentra-sentra pengrajin batik yang dahulu merupakan pusat industri batik mulai bangkit kembali dan merambat sampai keluar kota. Di lain sisi, Kota Pekalongan yang mempunyai garis pantai sepanjang 6,15 km merupakan salah satu kota di Indonesia yang memiliki Pelabuhan Perikanan yang cukup besar dengan type B, yang dilengkapi dengan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) sebagai pusat kegiatan dan transaksi hasil tangkapan ikan. Hampir setengah penduduk krapyak berprofesi sebagai nelayan yang menggantungkan hidupnya terhadap alam. Sehingga hal tersebut berbanding terbalik dengan kasus yang sebelumnya. Sektor perikanan yang kini “tenggelam” jika dibanding pada era 1990 hingga tahun 2002, yang produksi perikanan tangkapnya mampu mencapai 300 – 500 ton per hari, sedangkan kini hanya mampu sekitar 70 ton per hari. Menyebabkan kesenjangan sosial yang nampak jelas di lapangan. Dari dua kondisi kontras tersebut menarik untuk dibuatnya perencanaan daerah wisata krapyak dari segi design bangunan, tipe perkampungan, hingga sistem bisnis yang akan digunakan hal tersebut dapat menarik wisatawan untuk berkunjung sehingga menguntungkan bagi penduduk itu sendiri. Tentunya dengan tidak melupakan issue-issue lingkungan yang terjadi.
    URI
    http://hdl.handle.net/123456789/17723
    Collections
    • Professional Program of Architect (PPAr) [76]

    DSpace software copyright © 2002-2015  DuraSpace
    Contact Us | Send Feedback
    Theme by 
    @mire NV
     

     

    Browse

    All of DSpaceCommunities & CollectionsBy Issue DateAuthorsTitlesSubjectsThis CollectionBy Issue DateAuthorsTitlesSubjects

    My Account

    LoginRegister

    DSpace software copyright © 2002-2015  DuraSpace
    Contact Us | Send Feedback
    Theme by 
    @mire NV