• Login
    View Item 
    •   DSpace Home
    • Students & Alumnae
    • Undergraduate Thesis
    • Faculty of Law
    • Law
    • View Item
    •   DSpace Home
    • Students & Alumnae
    • Undergraduate Thesis
    • Faculty of Law
    • Law
    • View Item
    JavaScript is disabled for your browser. Some features of this site may not work without it.

    Nalar Burhānī dalam Ijtihād Maqāṣidī serta Implikasinya dalam Penetapan Hukum

    Thumbnail
    View/Open
    01.0 cover.pdf (100.3Kb)
    02 preliminari.pdf (1.406Mb)
    03 daftar isi.pdf (268.8Kb)
    04 abstract.pdf (156.6Kb)
    05.1 bab 1.pdf (266.7Kb)
    05.2 bab 2.pdf (408.5Kb)
    05.3 bab 3.pdf (128.9Kb)
    05.4 bab 4.pdf (337.2Kb)
    05.5 bab 5.pdf (481.7Kb)
    05.6 bab 6.pdf (359.2Kb)
    05.6 bab 6.pdf (359.2Kb)
    05.7 bab 7.pdf (202.2Kb)
    06 daftar pustaka.pdf (208.4Kb)
    Date
    2017
    Author
    Samiyah
    Metadata
    Show full item record
    Abstract
    Dewasa ini, maqāṣid asy-syarī`ah merupakan salah satu faktor penting yang menjadi pertimbangan mujtahid dalam menentukan hukum. Tujuannya adalah agar upaya ijtihad yang dilakukan dapat menghasilkan hukum yang progresif dan sesuai dengan konteks yang terjadi di masyarakat modern. Dalam epistemologi Islam, setidaknya dikenal tiga nalar berpikir untuk mendapatkan pengetahuan, yaitu: 1) nalar bayānī yang mengedepankan kajian kebahasaan/linguistik, 2) nalar ‘irfānī yang mengedepankan aspek spiritualitas, dan 3) nalar burhānī yang mengedepankan rasionalitas. Tentu saja setiap nalar berpikir tersebut memiliki implikasi dan akibat yang berbeda dalam perumusan hukum yang dihasilkan. Islam sangat menjunjung tinggi akal. Tak jarang, hal ini sering dijadikan pembenaran oleh kelompok yang begitu menuhankan akal untuk berlebihan dalam menggunakan akal. Oleh karenanya, tulisan ini berfokus pada pembahasan tentang ijtihād maqāṣidī dengan menggunakan nalar burhānī serta bagaimana implikasinya dalam menetapkan hukum. Ternyata, pengetahuan hakiki tidak dapat disandarkan pada rasionalitas semata sehingga ijtihād maqāṣidī dengan penggunaan akal secara membabi buta tidak dapat dibenarkan walaupun atas dasar mewujudkan kemaslahatan. Apalagi, maqāṣid asy-syarī’ah mengandung nilai-nilai etis yang harus dipertimbangkan. Dengan adanya unsur-unsur etis itulah, maqāṣid asy-syarī`ah tidak dapat disingkap dengan pertimbangan rasionalitas an sich. Sehingga dalam rangka menemukan pengetahuan akan maqāṣid asy-syarī`ah yang hakiki diperlukan integrasi antara ketiga sistem nalar bayānī, burhānī dan `irfānī.
    URI
    http://hdl.handle.net/123456789/11057
    Collections
    • Law [3376]

    DSpace software copyright © 2002-2015  DuraSpace
    Contact Us | Send Feedback
    Theme by 
    @mire NV
     

     

    Browse

    All of DSpaceCommunities & CollectionsBy Issue DateAuthorsTitlesSubjectsThis CollectionBy Issue DateAuthorsTitlesSubjects

    My Account

    LoginRegister

    DSpace software copyright © 2002-2015  DuraSpace
    Contact Us | Send Feedback
    Theme by 
    @mire NV