Analisis Pengaruh Soil Nailing dan Pengaturan Muka Air Tanah terhadap Stabilitas Lereng Menggunakan Metode Kesetimbangan Batas dan Metode Elemen Hingga
Abstract
Kabupaten Banjarnegara merupakan wilayah dengan kondisi topografi didominasi
perbukitan dan lereng terjal sehingga memiliki tingkat kerawanan longsor yang tinggi. Berdasarkan
data Baperlitbang Banjarnegara (2023), sekitar 37,04% wilayah Kabupaten Banjarnegara berada
pada ketinggian 100–1000 mdpl dan termasuk jalur pegunungan di bagian tengah Provinsi Jawa
Tengah sisi barat. Tingginya kejadian longsor dipengaruhi oleh kondisi morfologi berupa perbukitan
dengan kemiringan landai hingga terjal, litologi yang memiliki daya resap air tinggi, serta curah
hujan tinggi yang mempercepat proses pelapukan tanah. Penelitian ini membahas fenomena longsor
yang terjadi pada ruas jalan Gripit– Kalibening, Dusun Bendawuluh, Desa Beji, Kecamatan
Banjarmangu, Kabupaten Banjarnegara. Pergerakan tanah pada lokasi tersebut menyebabkan badan
jalan mengalami penurunan hingga ±1 meter. Kondisi lereng tersusun oleh batuan yang telah
mengalami pelapukan cukup parah dan terdapat mata air yang mengalir terus-menerus tanpa sistem
drainase yang memadai sehingga meningkatkan gaya geser pada lereng. Hingga saat ini, penanganan
longsor pada lokasi tersebut belum dilakukan secara optimal sehingga pergerakan tanah masih terus
terjadi. Oleh karena itu, diperlukan analisis terhadap metode perkuatan lereng yang tepat guna
meningkatkan stabilitas lereng dan meminimalkan risiko longsor pada lokasi penelitian.
Penelitian ini dilakukan dengan menganalisis stabilitas lereng eksisting pada ruas jalan
Gripit–Kalibening menggunakan aplikasi PLAXIS 2D dan GeoStudio (SLOPE/W). Analisis
dilakukan untuk mengetahui kondisi tanah serta kestabilan lereng berdasarkan nilai faktor keamanan
(safety factor/SF) serta perilaku deformasi tanah pada lereng eksisting. Upaya penanganan longsor
yang dianalisis dalam penelitian ini meliputi perkuatan soil nailing dan penggunaan drainase bawah
permukaan. Desain perkuatan soil nailing mengacu pada standar SNI 8460:2017. Hasil analisis dari
kedua metode tersebut kemudian dibandingkan untuk mengetahui metode penanganan yang paling
efektif dalam meningkatkan nilai SF lereng pada lokasi penelitian.
Hasil analisis perkuatan lereng pada ruas jalan Gripit – Kalibening, Dusun Bendawuluh,
Kecamatan Banjarmangu, Kabupaten Banjarnegara, menunjukkan bahwa pergerakan tanah terjadi
akibat kondisi lereng jenuh air dan batuan yang telah mengalami pelapukan. Berdasarkan parameter
tanah dan klasifikasi USCS, lapisan tanah pada lokasi penelitian termasuk jenis CH. Hasil
penyelidikan geolistrik menunjukkan adanya kondisi tanah jenuh air di bawah permukaan lereng
serta lapisan batuan breksi keras yang berpotensi menjadi bidang gelincir. Analisis stabilitas lereng
eksisting dilakukan menggunakan PLAXIS 2D dan GeoStudio (SLOPE/W) dengan hasil nilai safety
factor (SF) masing-masing sebesar 1,046 dan 1,029, sehingga belum memenuhi kriteria keamanan
lereng (SF > 1,5). Oleh karena itu, dilakukan analisis penanganan menggunakan metode perkuatan
soil nailing dan rekayasa muka air tanah. Desain soil nailing mengacu pada SNI 8460:2017 dengan
panjang nail 6 m pada lereng atas dan 12 m pada lereng bawah, sudut pemasangan 20°, serta
diameter bor 150 mm. Hasil analisis menunjukkan bahwa perkuatan soil nailing menghasilkan nilai
SF sebesar 1,578 sehingga memenuhi kriteria keamanan lereng, namun penerapannya dinilai kurang
efektif karena panjang nail yang dibutuhkan melebihi 1,2H. Sementara itu, analisis rekayasa muka
air tanah menggunakan PLAXIS 2D menunjukkan bahwa penurunan muka air tanah sebesar 7 meter
meningkatkan nilai SF menjadi 1,47, meskipun belum memenuhi syarat keamanan. Berdasarkan
hasil penelitian, metode soil nailing memberikan peningkatan stabilitas lereng yang lebih baik
dibandingkan rekayasa muka air tanah.
Collections
- Civil Engineering [4889]
