Motivasi Berprestasi Siswa Tuna Netra yang Bersekolah di Sekolah Inklusi
Abstract
Penelitian kualitatif ini menggunakan desain studi kasus bertujuan untuk mengetahui motivasi berprestasi, faktor pendorong, dan pendukung siswa tuna netra yang bersekolah di inklusi. Responden penelitian berjumlah tiga orang, terdiri dari 2 siswa tuna netra total kelas 3 dan 1 siswa tuna netra low vision kelas 1. Metode pengumpulan data menggunakan wawancara dan observasi. Ditemukan bahwa faktor internal siswa tuna netra yaitu dorongan ingin menambah pengalaman, lebih aktif dalam pergaulan, beraktualisasi diri, mengutamakan pendidikan formal daripada keterampilan, mencoba menghadapi rasa takut, meningkatkan kemandirian, bosan di Panti (asrama), dan memperbaiki diri. Faktor eksternalnya yaitu ajakan dari orang lain, suasana kompetitif, tidak ada SMA LB, kualitas SMA inklusi jauh lebih baik, tidak ada kegiatan terkait ilmu pengetahuan di SLB, dan bekal dari asrama. Motivasi berprestasi terdiri dari tiga aspek, aspek need to achieve yaitu bersosialisasi ke masyarakat mengenai keberadaan tuna netra, mempersiapkan diri untuk ujian sekolah, bisa bersaing dengan siswa beragam karakter, mencontoh kesuksesan kakak kelas, berusaha mewujudkan cita-cita, berharap mendapat teman yang tulus menyayangi, dan mengubah kehidupan menjadi lebih bermakna. Aspek need to avoid from failure yaitu berpartisipasi dalam berbagai kegiatan, aktif di kelas, aktif bergaul dengan orang lain, belajar giat, memperbaiki kebiasaan buruk, dan berusaha bangkit dari trauma. Aspek perceived self efficacy adalah keyakinan, kepercayaan diri yang kuat, konsekuen. Implikasi sosial siswa tuna netra bersekolah di inklusi adalah pandangan masyarakat berubah positif terhadap tuna netra, mendapat banyak teman, bertambah wawasan dan pengalaman baru. Implikasi emosionalnya adalah perasaan senang, bangga, nyaman, takut, benci, trauma, jenuh, minder berada di lingkungan inklusif. Sementara implikasi akademiknya adalah eksakta sulit diserap dan ketertinggalan materi. Faktor internal siswa tuna netra mampu bertahan di sekolah inklusi yaitu berbakat di keterampilan, inteligensi melebihi teman awas, dan cara belajar siswa tuna netra khas. Faktor eksternalnya yaitu dukungan sekolah, lingkungan masyarakat dan pemerintah, dukungan keluarga dan teman, dan bantuan dari kakak alumni.
Collections
- Psychology [1337]
