Pengurangan Pemborosan Pada Proses Produksi Blok Rem Kereta Api Metalik Tipe T.358 dengan Pendekatan Lean Manufacturing (Studi Kasus: Koperasi Industri Pengecoran Logam dan Permesinan “Batur Jaya“)
Abstract
Koperasi Industri Batur Jaya merupakan sebuah koperasi yang bergerak di bidang industri pengecoran dan permesinan. Penelitian ini difokuskan pada proses produksi blok rem kereta api metalik tipe T.358. Pada Koperasi Batur Jaya masih ditemukan permasalahan berupa waste pada proses produksi. Pada penelitian ini digunakan pendekatan lean manufacturing menggunakan VSM dan FMEA untuk mengeliminasi waste yang ada. Dari VSM dan data perusahaan ditemukan waste pada proses produksi berupa inventori berupa barang jadi dan work in process (WIP, ), waiting time dan defect. Jenis defect yang terjadi pada produk rem kereta api metalik T.358 ada 8 jenis yaitu, Surgical sand, uncomplete, rongga gas, core defect, Shrinkage, cros joint, dan penetration. Dari diagram pareto, dapat dilihat bahwa jenis cacat yang berkonstribusi sebanyak 84.63% dari total jumlah jenis cacat yang ada adalah, Surgical sand (CI), Rongga gas (C2), Uncomplete (C3) dan Core Defect (C4). Analisis Akar penyebab (RCA) masalah dari keempat jenis cacat dilakukan dengan menggunakan diagram fishbone. Dari diagram fishbone didapatkan bahwa kecacatan produk dapat disebabkan oleh faktor manusia, proses, dan measurement/pengukuran. Setelah menemukan akar penyebab masalah, proses selanjutnya adalah mencari modus kegagalan yang akan diprioritaskan dengan FMEA. Dari FMEA didapatkan 5 modus kegagalan dengan nilai RPN tertinggi yaitu, Cetakan lembab (441), Cairan tumpah (441), Posisi inti/core tidak kokoh (441), Cairan kurang (270) dan Terdapat kotoran dalam leburan (162). Tindakan perbaikan yang dilakukan dengan pendekatan lean adalah pengurangan waiting time antara proses inspeksi dan machining dari 3 hari menjadi 1 hari dengan prinsip continuous flow. Pencegahan modus kegagalan dapat dilakukan dengan cara memperketat pengawasan terhadap setiap proses penyiraman dan pastikan pasir cetak baru digunakan 6 jam setelah dilakukan penyiraman, Membuat standarisasi kadar penyiraman, Pemasangan inti diwajibkan menggunakan kawat, Minimalkan proses estafet pada proses penuangan besi cor, Operator pembuang kotoran disarankan melakukan tetes mata secara berkala.
Collections
- Industrial Engineering [2908]
