Evaluasi Penggunaan Obat Sebelum dan Sesudah JKN Menggunakan Indikator Peresepan WHO di Puskesmas Kota Yogyakarta
Abstract
Puskesmas sebagai salah satu pelayanan kesehatan dasar dalam sistem pelayanan kesehatan di Indonesia mempunyai peran sangat strategis dalam pelayanan kesehatan masyarakat. Pelayanan kefarmasian di puskesmas merupakan salah satu komponen penting dalam pelayanan kesehatan dasar, penyedia layanan kesehatan dan Jaminan kesehatan Nasional (JKN). Menurut World health Organization (WHO) sekitar 50% dari seluruh penggunaan obat yang ada di dunia, tidak tepat pada peresepan. Penggunaan obat yang tidak tepat dan rasional berhubungan erat dengan peresepan yang tidak tepat. Hal ini berdampak pada mutu pengobatan, kualitas pelayanan kesehatan kepada pasien, biaya pengobata seperti pemborosan persediaan obat-obatan, menimbulkan kerugian di sarana pelayanan kesehatan, meningkatkan kemungkinan kejadian efek samping dan efek lain yang tidak dikehendaki. Penelitian bertujuan untuk membandingkan peresepan obat sebelum dan sesudah JKN secara deskriptif non eksperimental menggunakan desain potong lintang (Cross Sectional) di Puskesmas Danurejan II, Wirobrajan, dan Umbulharjo. Pengambilan data dilakukan retrospektif dengan resep pasien JKN periode Juli - Desember 2013 dan Juli – Desember 2014. Data diolah melalui analisis univariat dan bivariat. Hasil penelitian menunjukan bahwa pada 3 puskesmas rata rata jumlah obat tiap pasien adalah 3,23, rata rata persentase peresepan obat dengan nama generik adalah 91,98%, rata rata persentase peresepan obat dengan antibiotik adalah 29,66%, rata rata persentase peresepan obat dengan sediaan injeksi adalah 5%, rata rata persentase item obat yang diresepkan dengan Daftar Obat Esensial Nasional adalah 73,69%, ada beberapa perbedaan kualitas peresepan obat di Puskesmas Kota Yogyakarta sebelum dan sesudah JKN.
Collections
- Pharmacy [1834]
