Studi Tentang Pelaksanaan Sistem Kredit Semester (SKS) di Pondok Pesantren As-salafiyyah Mlangi, Nogotirto, Gamping, Sleman
Abstract
SKS (Sistem Kredit Semester) yang sudah lekat dengan Perguruan Tinggi masih sering menghadapi persoalan baik dari segi kurikulum, pengajaran maupun menejemennya. Bahkan secara terus menerus di Perguruan Tinggi tersebut selalu diadakan inovasi agar program SKS tetap aktual. Kegiatan ini sangat menyedot biaya yang banyak, bahkan tenaga dan pikiran diarahkan kesana. Bagaimana dengan pesantren As-Salafiyyah yang sudah terbiasa menggunakan sistem pendidikan tradisional dan perangkatnya yang sangat terbatas, apakah tidak banyak menghadapi masalah? Penelitian ini dilakukan menggunakan pendekatan kualitatif dengan subyek penelitian antara lain kyai, ustadz, pengurus, santri dan masyarakat. Pemilihan pondok pesantren As- Salafiyyah Mlangi, Nogotirto, Sleman sebagai tempat penelitian berdasarkan pertimbangan bahwa langkah pesantren tradisional berani melangkah membuat paradigma baru dalam dunia pendidikan dan pengajaran. Langkah ini belum pernah diambil oleh pesantren salafiyyah lainnya bahkan pemerintahpun dalam hal ini Departemen Agama belum berani mengatur sistem ini dengan serius. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini melalui observasi, wawancara mendalam, kajian perpustakaan, kemudian dianalisa melalui model analisa data kualitatif. Studi sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik, rondom sampling, karena keadaan populasinya homogen. Hasil penelitian menunjukan, yaitu: 1. Pendidikan agama Islam di pesantren As-Salafiyyah berorientasi pada pembentukan manusia yang berakhlaq karimah sebagaimana yang ditanamkan oleh para pendahulunya. Ada empat cara yang ditempuh oleh pesantren As-Salafiyyah untuk mewujudkan orientasi ini, yaitu: (1) mengajarkan melalui kurikulum yang disusun secara khusus; (2) melalui suritauladan kyai, ustadz dan pengurus; (3) melalui amaliyah ibadah mahdlah dan ghairu mahdlah; (4) melalui istighasah dan mujahadah. 2. Dalam proses belajar mengajar dengan sistem SKS pesantren As-Salafiyyah menggunakan 6 metode; yaitu: (1) Metode ceramah dan dialog. (2) Metode Halaqah; (3) Metode Hiwa atau Musyawarah; (4) Metode Fathul Kutub; (5). Metode Mugaranah; (6) Muhawarah atau Muhadatsah. 3. Materi pengajaran di pesantren ini masih tetap bersumber pada kitab-kitab karya ulama salaf mu'tabar yang dimodifikasi dalam kurikulum pengajarannya. 4. Pelaksanaan SKS yang berjalan selama 7 tahun masih belum mampu menjadi budaya pengajaran di pesantren As-Salafiyyah, tetapi mesih terbatas pada gerakan pembaruan. Hal ini disebabkan oleh: (1) Kurangnya sumberdaya pengajar (2) Kurangnya sarana prasarana pendukung program SKS (3) Lokasi waktu yang disediakan belum bisa dimanfaatkan dengan baik (4) Cara berpikir ilmiah belum menjadi tradisi pengembangan ilmu pengetahuan di pesantren ini.
Collections
- Master of Islamic Studies [1680]
