Tarekat Qodiriyah Wan Naqsyabandiyah (Studi Tentang Sejarah Perkembangan Pendidikan dan Sosialisasi Doktrin Qodiriyah Wan Naqsyabandiyah Kh. Zamroji Kencong Kepung Pare)
Abstract
Tesis ini akan mengetengahkan kajian terhadap tarekat Qadiriyah wan Naqsyabandiyah sebagai buah dari pergolakan ruang dan waktu yang memfokuskan pada sejarah, ajaran dan sosialisasinya. Penelitian ini dilakukan di Kencong Kepung Kecamatan Pare Kabupaten Kediri Jawa Timur dengan pendekatan historis, teologis dan sosialnya. Data yang dikumpulkan melalui wawancara serta observasi terhadap Mursyid, Khalifah, Badal dan penganut tarekat tersebut. Sebagaimana diketahui bahwa perkembangan tarekat pada hakekatnya baru muncul setelah wafatnya al Ghozali yang diakui sebagai awal kebangkitan kecenderungan hidup sufistik. Tarekat ini merupakan jalan yang ditempuh oleh seorang Sufi dengan tujuan peningkatan kesucian hingga dekat dengan Tuhan. Dalam hal ini dilakukan melalui riyadhah, musyahadah, membersihkan diri dan mengisi sifat terpuji dengan melakukan dzikir hingga mencapai ma'rifatulloh. Praktek amalan tersebut dilakukan dengan bimbingan mursyid. Tarekat Qadiriyah wan Naqsyabandiyah sendiri merupakan penggabungan antara tarekat Qadiriyah yang didirikan oleh Syekh Abdul Qodir Al Jaelani dengan tarekat Naqsyabandiyah yang dibawa oleh Sekh Ahmad bin Muhammad Bahauddin al Naqsyabandiyah. Perkembangan tarekat ini dibawa oleh Ahmad Yusuf al Maqassari kemudian menyebar ke seluruh Indonesia dengan bentuk penggabungan yang berbeda dengan amalan yang berbeda. Tarekat Qadiriyah wan Naqsyabandiyah yang berkembang di Kencong Kepung Pare Kediri dikembangkan oleh KH. Zamroji yang mendapat ijazah langsung dari Syekh Qadiriyah wan Naqsyabandiyah KH. Muslih Mranggen Demak. Perkembangan tarekat yang diajarkan di Jawa Timur sangat pesat apalagi setelah beliau diangkat menjadi Mursyid Khalifah Kubro, sehingga banyak bermunculan cabang-cabang di setiap daerah. Sosialisasi tarekat melalui pengajaran-pengajaran, pembaiatan dan mengangkat badal untuk memimpin tarekat di daerah masing-masing. Ajaran tarekat yang dikembangkan oleh KH. Zamroji tidak berbeda dengan ajaran-ajaran yang dikembangkan oleh Mursyid lain, meskin disana-sini ada spesifikasi yang membedakan diantara mereka. Kesamaan itu dapat dilihat pada amalan-amalan dzikir seperti dzikir ism al dzat, Nefi isbat, dzikir latha'if tujuh, melakukan amalan muroqobah. Perbedaan sebagai spesifikasi tarekat di Kencong Kepung Pare Kediri adalah tawajuhan (manaqiban) dilakukan pada setiap Sabtu sampai dengan Sabtu Wage sehingga hari yang terbesar dalam melakukan amalan tarekat.
Collections
- Master of Islamic Studies [1637]
