| dc.description.abstract | Sistem pendidikan global menghadapi tekanan yang semakin
besar untuk menghasilkan lulusan yang kompeten secara
akademik, tangguh secara karakter, dan berwawasan
lingkungan. Indonesia, negara berpenduduk muslim terbesar
di dunia dengan 3,5 juta santri aktif di 43.943 pesantren,
memiliki potensi peradaban yang tak tertandingi untuk
menjawab tantangan ini. Namun di Kendal, yang dikenal
sebagai "Kota Santri," potensi ini berada di bawah ancaman
langsung dari banjir pasang air laut (rob) pesisir. Data dari
BPBD Jawa Tengah dan studi-studi lokal mencatat genangan
rob mencapai 30 cm di permukiman pesisir seperti Kendal,
merusak permukiman dan infrastruktur, mengganggu
sanitasi, dan menghentikan aktivitas sehari-hari. Didorong
oleh penurunan muka tanah, abrasi pantai, dan hilangnya
mangrove akibat perluasan Kawasan Ekonomi Khusus, banjir
berulang ini menempatkan pesantren pesisir pada risiko
kerusakan fisik dan penurunan kualitas pembelajaran, namun
belum ada prototipe desain pesantren pesisir yang adaptif
saat ini.
Studi ini mengusulkan desain arsitektur Eco Pesantren
melalui strategi Sponge Architecture sebagai respons
langsung terhadap banjir pasang di pesisir Kendal. Prinsip
sponge architecture "living with water" seperti kolam retensi
dan penyangga berbasis mangrove diintegrasikan dengan
nilai-nilai spasial Islam, menerjemahkan prinsip ekologis
menjadi bagian yang hidup dan nyata dari pendidikan santri.
Hasil dari penelitian ini adalah desain arsitektur (konsep
tapak, zonasi, dan detail bangunan) untuk pesantren pesisir
yang adaptif terhadap banjir, dimaksudkan sebagai prototipe
rujukan bagi pesantren pesisir lain di Indonesia dan model
untuk membentuk santri sebagai agen perubahan menuju
Indonesia Emas 2045. | en_US |