Show simple item record

dc.contributor.authorArtiza, Danish
dc.date.accessioned2026-09-12T06:40:11Z
dc.date.available2026-09-12T06:40:11Z
dc.date.issued2026
dc.identifier.urihttps://dspace.uii.ac.id/123456789/67104
dc.description.abstractKabupaten Sambas menghadapi peningkatan kasus Anak Berhadapan dengan Hukum (ABH) dan fenomena perilaku antisosial lokal "Anak Hantu", yang diperparah oleh infrastruktur Lembaga Penyelenggara Kesejahteraan Sosial (LPKS) eksisting bermodel institusional kaku layaknya penjara sehingga memicu trauma anak. Perancangan ini bertujuan menghadirkan fasilitas LPKS di Kabupaten Sambas sebagai pusat rehabilitasi yang transformatif, edukatif, dan interaktif guna memulihkan fungsi sosial ABH. Menggunakan metode Pattern-Based Design, proyek ini menerapkan arsitektur perilaku dengan menempatkan Liminality sebagai pendekatan utama untuk memanipulasi sekuens ruang transisi (separasi, transisi, inkorporasi) secara spasial. Pendekatan utama ini didukung secara taktis oleh konsep The Third Teacher melalui rekayasa fasad sensorik (porous skin) serta konsep Social Condenser melalui tumpang tindih program vokasional-komunal. Hasilnya adalah sebuah rancangan lingkungan rehabilitasi humanis yang memitigasi konflik internal, menghilangkan batas fisik intimidatif melalui sistem invisible security berbasis alam, serta mengoptimalkan kesiapan adaptasi psikososial anak untuk kembali ke masyarakat.en_US
dc.publisherUniversitas Islam Indonesiaen_US
dc.subjectAnak Berhadapan dengan Hukum (ABH), Arsitektur Perilaku, Lembaga Penyelenggara Kesejahteraan Sosial (LPKS), Liminality, Social Condenser, The Third Teacheren_US
dc.titleMUARE-HAB: Perancangan Lembaga Penyelenggara Kesejahteraan Sosial dengan Pendekatan Liminalitas di Kabupaten Sambas, Kalimantan Baraten_US
dc.typeThesisen_US
dc.Identifier.NIM22512093


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record