Show simple item record

dc.contributor.authorFayazid, M Syauqi Hikam
dc.date.accessioned2026-09-09T08:52:27Z
dc.date.available2026-09-09T08:52:27Z
dc.date.issued2026
dc.identifier.urihttps://dspace.uii.ac.id/123456789/66950
dc.description.abstractAktivitas dan pengguna mempengaruhi transformasi ruang menjadi sebuah tempat. Begitu pula Tempat Ketiga (Third Place) yang muncul akibat kebutuhan ruang sosial dan komunitas diluar rumah (First Place) dan tempat produktif (Second Place). Perkembangan Tempat Ketiga dipengaruhi oleh budaya dan kemampuan ruangnya dalam mengakomodasi fungsi sebagai Tempat Ketiga, yakni kemampuan ruang dalam menyediakan kesempatan berinteraksi bagi berbagai kelompok (Neutral Ground). Sehingga, perkembangan kajian Tempat Ketiga tidak hanya terbatas pada tipologi tempat seperti restoran, café, dan ruang komunitas. Perkembangan objek kajian Tempat Ketiga meluas pada perpustakaan hingga ruang keagamaan yang bukan murni sebagai Tempat Ketiga. Hal ini menjadi menarik ketika karakter neutral ground dapat ditemui pada ruang keagamaan (religious spaces) seperti halnya pada masjid. Terlebih, masjid kontemporer/masa kini tidak lagi sekedar dipahami sebagai ruang ibadah saja, tetapi juga dapat mengakomodasi fungsi sosial sesuai konteks kebutuhan masyarakatnya. Negosiasi antara ruang keagamaan dengan aktivitas non-keagamaan terjadi dalam beberapa kasus masjid, khususnya di Indonesia. Seperti halnya yang terjadi di Masjid Jogokariyan yang memiliki pola pemanfaatan ruang seperti Tempat Ketiga, terdapat kekuatan sosial antara masjid dengan warga kampung dan adanya kemampuan ruang-ruang masjid dalam mengakomodasi berbagai aktivitas sosial yang bersifat keagamaan hingga non-keagamaan di dalam ruang-ruang masjid. Sehingga, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang menjadikan Masjid Jogokariyan sebagai Tempat Ketiga (Third Place) dan bagaimana proses terbentuknya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan studi kasus tunggal yaitu Masjid Jogokariyan, Yogyakarta. Pendekatan kualitatif dipilih karena penelitian ini bertujuan menggali pemahaman pada Masjid Jogokariyan sebagai Tempat Ketiga (Third Place) dalam konteks ruang keagamaan. Kesimpulan dari penelitian menunjukkan bahwa Masjid Jogokariyan berfungsi sebagai Tempat Ketiga (Third Place) karena didukung oleh tiga faktor utama, yaitu faktor spasial, faktor sosial, dan faktor teknikal. Faktor spasial meliputi kreativitas serambi, dual pusat ruang dan pola ekspansi ruang, serta Islamic Center sebagai ruang otonom yang memperluas kapasitas aktivitas. Faktor sosial ditunjukkan oleh keragaman pengguna (regulars dan newcomers), yaitu pembentukan jejaring sosial internal-eksternal. Faktor teknikal menjadi mekanisme yang memungkinkan ruang-ruang di Masjid Jogokariyan terus beradaptasi terhadap dinamika aktivitas dan pengguna melalui strategi zonasi ruang yang adaptif, fleksibilitas dalam penggunaan ruang, dan strategi elemen arsitektur yang plural. Ketiga faktor terbentuk melalui proses praktik sosial yang mendorong negosiasi ruang yang berkelanjutan, sehingga menghasilkan produksi ruang yang beragam serta strategi fleksibilitas untuk menjadikan ruang-ruang terus beradaptasi pada perubahan aktivitas, pengguna, dan waktu.en_US
dc.publisherUniversitas Islam Indonesiaen_US
dc.subjectArsitektur Masjid, Fleksibilitas Ruang, Keterbukaan Ruang, Masjid Jogokariyan, Tempat Ketigaen_US
dc.titleMasjid Jogokariyan sebagai Third Placeen_US
dc.typeThesisen_US
dc.Identifier.NIM24922009


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record