| dc.description.abstract | Perubahan iklim dan tingginya emisi karbon dari sektor transportasi mendorong
percepatan transisi menuju kendaraan rendah emisi, termasuk mobil listrik. Meskipun
pemerintah Indonesia telah mendukung pengembangan ekosistem kendaraan listrik
melalui berbagai kebijakan dan pembangunan infrastruktur, keputusan pengguna untuk
melakukan pembelian kembali mobil listrik masih dipengaruhi oleh berbagai faktor.
Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi niat beli
kembali (repurchase intention) mobil listrik di Indonesia, menganalisis pengaruh faktor
teknologi, sosial, moral, dan ekonomi, serta membandingkan perbedaannya pada
Generasi X, Generasi Y (Milenial), dan Generasi Z. Penelitian mengintegrasikan
Technology Acceptance Model (TAM), Theory of Planned Behavior (TPB), dan Norm
Activation Model (NAM) dengan penambahan konstruk Perceived Economic Feasibility
(PEF). Analisis dilakukan menggunakan Structural Equation Modeling (SEM) dan Multi-
Group Analysis (MGA) berbantuan IBM SPSS AMOS 26 terhadap 315 pengguna mobil
listrik di Indonesia yang telah menggunakan kendaraan minimal tiga bulan. Hasil
penelitian menunjukkan seluruh hipotesis pada model utama diterima secara signifikan.
Personal Norm merupakan faktor yang paling dominan memengaruhi repurchase
intention, diikuti Subjective Norm, Perceived Usefulness, dan Perceived Economic
Feasibility. Analisis MGA juga menunjukkan adanya perbedaan pola pengaruh antar
generasi, di mana Generasi X lebih mempertimbangkan aspek ekonomi, Generasi Y lebih
dipengaruhi manfaat fungsional dan pengaruh sosial, sedangkan Generasi Z menunjukkan
pengaruh yang lebih kuat dari faktor teknologi, sosial, moral, dan ekonomi. Temuan ini
memberikan implikasi bagi pengembangan strategi pemasaran dan kebijakan percepatan
adopsi mobil listrik di Indonesia. | en_US |