Dampak Pengalaman Hubungan Masa Lalu terhadap Kualitas Perkawinan pada Dewasa Awal
Abstract
Kualitas perkawinan merupakan salah satu indikator penting dalam keberlangsungan hubungan
pernikahan. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pengalaman masa kecil yang merugikan
(Adverse Childhood Experiences/ACE) dapat memengaruhi berbagai aspek kehidupan
seseorang, termasuk hubungan interpersonal di masa dewasa. Penelitian ini bertujuan untuk
menentukan hubungan antara Adverse Childhood Experiences (ACE) dan kualitas perkawinan
pada dewasa awal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain
korelasional. Partisipan terdiri dari 191 orang dewasa awal yang sudah menikah. Data
dikumpulkan secara daring menggunakan Indonesian Marital Quality Scale (IMMQS) untuk
mengukur kualitas perkawinan dan WHO ACE-IQ versi adaptasi bahasa Indonesia untuk
mengukur pengalaman masa kecil yang merugikan. Analisis data dilakukan menggunakan
koefisien korelasi Spearman. Hasil penelitian tidak menunjukkan hubungan yang signifikan
antara ACE dan kualitas perkawinan di masa dewasa awal (p > 0,05), sehingga hipotesis
penelitian ditolak. Namun, analisis lebih lanjut berdasarkan jenis kelamin menunjukkan bahwa
pada partisipan laki-laki, aspek emotional neglect dan one or no parents, parental separation,
or divorce memiliki hubungan negatif yang signifikan dengan kualitas perkawinan, sedangkan
pada partisipan perempuan tidak ditemukan satu pun aspek ACE yang signifikan. Temuan ini
menunjukkan bahwa pengalaman masa kecil yang buruk tidak selalu berhubungan langsung
dengan kualitas perkawinan secara umum, tetapi jenis pengalaman tertentu, khususnya
emotional neglect, dapat berperan penting dalam kualitas hubungan perkawinan pada laki-laki.
Hasil ini mengindikasikan pentingnya perhatian terhadap dampak emotional neglect pada laki-
laki, yang selama ini kurang menjadi fokus dalam literatur mengenai ACE dan kualitas
perkawinan.
Collections
- Psychology [1337]
