Keyakinan Bahaya Merokok pada Penderita Penyakit Kronis
Abstract
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan desain penelitian studi kasus dan bertujuan untuk mengeksplorasi keyakinan (belief) tentang bahaya merokok dengan perilaku merokok pada perokok yang menderita penyakit kronis.
Subjek penelitian mengikutsertakan 5 orang pria dengan karakteristik perokok aktif, berusia 20-50 tahun, lama merokok minimal 7 tahun, sudah terdiagnosa penyakit kronis dan sudah berupaya menghentikan perilaku merokok. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara mendalam dalam bentuk rancangan wawancara terstruktur.
Hasil penelitian ditemukan bahwa terdapat bermacam-macam alasan mengapa seseorang merokok,dimana alasan-alasan tersebut dapat mempengaruhi tingkat keyakinan seseorang akan bahaya merokok. Alasan-alasan yang mempengaruhi keyakinan responden terhadap bahaya merokok, adalah kepercayaan responden jika mereka merokok akan lebih terlihat maskulin, memperoleh kepuasan semu sesaat ketika menghisap rokok, memiliki sugesti bahwa badan terasa lebih fit dan sehat jika merokok, lebih mudah mengendalikan emosi ketika marah, dapat menciptakan ide-ide atau gagasan kreatif, dapat membantu berkonsentrasi saat bekerja, menganggap merokok sebagai keharusan yaitu seperti kebiasaan yang sulit dihilangkan, menganggap rokok sebagai kebutuhan pokok karena sudah ketergantungan. Pengaruh dari lingkungan responden juga mempengaruhi tingkat keyakinan responden, yaitu kurangnya pengetahuan mengenai rokok, adanya pengaruh dari lingkungan teman-teman kerja responden yang sebagian besar adalah perokok sehingga mempengaruhi responden untuk merokok.
Agar bisa membentuk keyakinan yang dimiliki oleh penderita penyakit kronis terhadap bahaya merokok ini terdapat beberapa komponen yang membentuknya. Komponen yang pertama adalah resiko penyakit kronis. Penyakit kronis adalah penyakit yang tetap berlangsung dalam jangka panjang dan secara umum tidak dapat dicegah oleh vaksin atau diobati oleh pengobatan, ataupun menghilang lenyap begitu saja. Faktor-faktor penyakit kronis pada perokok, antara lain; kebiasaan merokok, cara pengaturan makan (diet) yang salah, dan kurangnya aktivitas fisik. Penyakit kronis disini bisa bermacam-macam, antara lain; jantung koroner, emphysema lury, artherosclerotic heart disease, post stent, bronchitis. Adanya penyakit kronis ini dapat disebabkan atau dapat dipicu keberadaannya oleh rokok.
Komponen yang kedua adalah hambatan dalam berkeyakinan. Di dalam prosesnya, keyakinan individu terhadap bahaya merokok dihadapkan pada situasi-situasi yang tidak mendukung baik internal maupun eksternal. Faktor internal seperti; kecanduan, mendapat kepuasan secara psikologis. Faktor eksternal seperti; lingkungan kerja responden yang sebagian besar adalah perokok, sehingga membuat responden belum bisa menghindar dari rokok. Faktor-faktor tersebut mempengaruhi tingkat keyakinan responden akan bahaya merokok.
Komponen yang ketiga adalah adanya dukungan sosial yang berasal dari keluarga yang berbentuk dukungan emosional. Dukungan emosional dari keluarga seperti saran dan nasehat untuk berhenti merokok, kepedulian keluarga terhadap kesehatan responden membantu mendorong individu untuk menjaga kesehatannya. Dukungan sosial ini juga mempengaruhi tingkat keyakinan responden akan bahaya merokok.
Komponen yang keempat adalah strategi dalam mengatasi bahaya merokok. Bagi perokok yang mengakibatkan penyakit kronis muncul atau terpicu kondisinya dapat diatasi dengan beberapa strategi, antara lain yaitu; pengetahuan terhadap bahaya merokok yang dianggap dapat merusak organ-organ tubuh individu, dan dianggap berbahaya untuk lingkungan sekitar perokok, baik untuk orang lain maupun diri sendiri. Lalu strategi yang kedua adalah mengurangi jumlah rokok yang dikonsumsi per harinya secara bertahap semakin menurun dan tidak bertambah. Strategi yang ketiga adalah menjaga kesehatan dengan mengkonsumsi makanan bergizi dan tidak mengandung kolesterol, dan menambah aktivitas fisik atau berolahraga.
Komponen yang kelima yang terungkap adalah adanya exspectance atau hasil yang diperoleh dari keyakinan individu terhadap bahaya merokok yaitu jumlah rokok yang dikonsumsi berkurang, berhenti merokok, dan kesehatan membaik dari sebelumnya.
Setelah melalui proses untuk mencapai hasil, didapatkan bahwa adanya tingkat keyakinan yang beragam dari para responden. Tingkat keyakinan terhadap bahaya merokok yang beragam ini yang akan mendorong munculnya perubahan perilaku merokok para responden walaupun ada yang tidak sampai menghentikan secara total atau perubahan perilaku merokok yang sedang; ini dalam tahap penurunan jumlah konsumsi rokok dan lebih menjaga kesehatan. Tingkat meyakinkan responden yang dulu sebelum mengalami sakit kronis dengan setelah mengalami sakit kronis mengalami pergeseran atau perubahan. Pergeseran keyakinan terhadap bahaya merokok dari yang tidak mempercayai bahwa merokok itu berbahaya, mengalami pergeseran menjadi mempercayai bahwa merokok dapat berbahaya bagi diri responden, khususnya bagi kesehatan mereka.
Pergeseran kepercayaan terhadap bahaya merokok itu tidak secara penuh dipercaya oleh responden, karena masih terdapat beberapa alasan lain dari responden seperti; memperoleh kepuasan semu sesaat ketika menghisap rokok, memiliki sugesti pikiran dan badan terasa lebih fit dan sehat jika merokok, lebih mudah mengendalikan emosi ketika marah, dapat menciptakan ide-ide atau gagasan kreatif, dapat membantu berkonsentrasi saat bekerja, menganggap merokok sebagai keharusan yaitu seperti kebiasaan yang sulit dihilangkan, menganggap rokok sebagai kebutuhan pokok karena sudah ketergantungan, dan sebagainya, yang membuat responden mempercayai bahwa rokok juga mempunyai manfaat untuk dirinya sehingga sebagian besar responden belum dapat berhenti merokok. Jadi dapat disimpulkan bahwa terdapat perubahan perilaku merokok dari para responden walaupun ada yang tidak sampai berhenti merokok, yang dipengaruhi oleh faktor-faktor penghambat dan faktor-faktor pendorong yang berbeda-beda dari setiap responden.
Collections
- Psychology [1337]
