| dc.description.abstract | Latar belakang: AWaRe (Access, Watch, Reserve) dikembangkan oleh World
Health Organization sebagai pedoman untuk mendukung penggunaan antibiotik
secara rasional guna menekan resistensi antimikroba, yang merupakan salah satu
ancaman terbesar bagi kesehatan global. Namun, penggunaan antibiotik yang tidak
sesuai pedoman masih ditemukan di puskesmas sebagai fasilitas kesehatan tingkat
pertama. Keberhasilan penerapan AWaRe bergantung pada tenaga kesehatan,
khususnya dokter dan apoteker, sehingga pengetahuan, sikap, dan kesiapan mereka
menjadi faktor penting dalam mendukung implementasi AWaRe.
Tujuan: Mengetahui tingkat pengetahuan, sikap, dan kesiapan tenaga kesehatan
puskesmas di Kabupaten Sleman terhadap AWaRe antibiotik, serta menganalisis
hubungan pengetahuan dan sikap dengan kesiapan, serta hubungan lama bekerja
dan pengalaman mengikuti pelatihan AWaRe antibiotik dengan tingkat
pengetahuan
Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan cross-
sectional. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan dianalisis melalui
analisis deskriptif dan analisis hubungan menggunakan uji Fisher’s Exact dan
Korelasi Spearman.
Hasil: Sebanyak 73 responden (83,9%) memiliki pengetahuan baik, seluruh
responden (100%) memiliki sikap positif, dan 84 responden (96,6%) siap
menghadapi AWaRe antibiotik. Pengetahuan (p=0,035) dan sikap (p<0,001)
berhubungan signifikan dengan kesiapan tenaga kesehatan dalam menghadapi
AWaRe antibiotik, sedangkan lama bekerja (p=0,252) dan pengalaman mengikuti
pelatihan AWaRe antibiotik (p=1,000) tidak berhubungan signifikan dengan
tingkat pengetahuan mengenai AWaRe antibiotik.
Kesimpulan: Mayoritas tenaga kesehatan puskesmas di Kabupaten Sleman
memiliki pengetahuan baik, sikap positif, dan siap menghadapi AWaRe antibiotik.
Pengetahuan dan sikap berhubungan signifikan dengan kesiapan menghadapi
AWaRe antibiotik. Lama bekerja dan pengalaman mengikuti pelatihan AWaRe
antibiotik tidak berhubungan dengan tingkat pengetahuan. | en_US |